Tampilkan postingan dengan label giveaway. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label giveaway. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 21 Februari 2015

Unconditional Love For My Earth

Tahun lalu, saya tak menargetkan apapun untuk menghasilkan sesuatu. Saya berjalan dan berlari dengan garis lurus. Berusaha berlaku sebaik mungkin terhadap siapa pun dan ikhlas. Tahun ini, imbas dari apa yang telah terjadi di tahun kemarin membuat saya seakan didorong untuk meneruskan hal-hal yang telah dirintis kemarin. Salah satunya menggiatkan warga terdekat untuk sadar lingkungan. Rumah saya dekat dengan sungai. Meski arusnya tidak deras, warga masih memanfaatkan untuk buang air dan mandi. Kadangkala sampah dibuang kesana bahkan pernah kasur kapuk ikut dilempar ke sungai. Sungguh mengerikan. Hal menyedihkan lainnya adalah rendahnya kesadaran untuk tidak membakar sampah. Saya alergi asap jadi suka uring-uringan jika ada asap lewat. 

Teman-teman pembaca pastinya sudah pernah melakukan kegiatan bersih-bersih di lingkungan sendiri. Tiap hari saya pun melakukannya. Namun sejak Desember kemarin saya merubah cara membersihkan lingkungan. Demi impian untuk mewujudkan cinta bumi, saya pun melatih diri. Keliatannya mudah tapi berbuat yang konsisten dan disiplin yang sulit. 
Saat gelombang malas menerpa, saya didera keengganan untuk disiplin. Padahal saya sendiri yang gembar gembor kepada warga agar "memerhatikan lingkungan dan mencoba mulai memisahkan sampah agar bisa mendirikan bank sampah". Siapa tahu, tahun ini bisa jalan..?

Itulah mimpi terdekat saya, mendirikan bank sampah di lingkungan RT, sebagai bentuk tresna-ku pada bumi. Hanya setingkat RT dulu ah karena jika setingkat RW atau kelurahan, saya sepertinya belum sanggup mengelola. Tapi jika sesuatu terjadi, ada yang setor masak sih ditolak???

Kenyataannya, sebulan setelah saya menengok langsung ke bank sampah mandiri di dekat rumah, saya tergoda untuk mulai bertindak. Ah saya ingin, dan saya harus bisa memberi contoh pada warga lain. Jadilah saya berikrar dan ikhtiar dengan:

  • akan selalu woro-woro tiap pertemuan PKK agar ibu-ibu memisahkan sampah non organiknya dari sampah organik 
  • akan memasang daftar harga agar memicu keinginan mereka untuk tergerak melakukan pemisahan warga disamping menunjukkan keterbukaan adanya daftar harga bagi barang yang telah dibuang
  • memberi contoh dengan mengumpulkan sendiri di rumah 
  • meminta warga agar terbiasa menyimpan bungkus kemasan isi ulang, botol dan bungkus kopi juga kresek untuk menyetorkannya pada saya.
  • akan menunjukkan ke penjual di warung terdekat, bahwa kresek hanya akan menambah sampah di rumah jadi saya selalu menolak jika diberi kresek untuk belanjaan yang tak terlalu merepotkan
  • akan mengajarkan kepada warga membuat ketrampilan dari kresek menjadi bros (dapat dilihat caranya disini)
Bros Cantik dari Kresek
  • akan mengumpulkan minuman gelas dan membuat tudung saji cantik hingga bisa dipublikasikannya ke warga di pertemuan bulanan (caranya bisa dilihat disini). 
Tudung Saji Minuman Gelas
  • Yang terbaru membereskan rumah sehingga bisa menerima sampah daun tetangga dan mengumpulkannya ke dalam karung. Edan sih..halaman jadi kotor tapi daripada mereka membakarnya begitu saja, CO2nya bisa ngotorin langit mendoan yang adem ayem.
  • Plus belajar uji coba menyisihkan sampah dapur ke dalam keranjang takakura dan membuat pupuk alami. Njajal mbok bisa hehehe. Kalo berhasil, buat info ke warga bulan depan!
Jadi begitulah usahaku meraih mimpi agar bumi terdekatku dapat bersih dari gangguan tanganku dan warga di sekitarku. Ini mimpi terdekatku dan suami. Kami berkhayal sejak tahun-tahun kemarin dan hanya dapat sedikit respon. Tapi kami yakin bulan depan, bisa mulai menerima setoran sampah warga dan mendirikan bank sampah yang sejahtera untuk warga. Dengan demikian warga beruntung bumi pun tak lagi murung. Wish Me Luck!


Minggu, 15 Februari 2015

Video Ajaib Peluang Warga

Nyaris setahun yang lalu, saat saya memosting alasan kesibukan saya disini, ketika saya tak punya program rencana untuk setahun ke depan dalam menjalankan roda kepercayaan di tingkat PKK RT. Bayangan sempit saya hanyalah rencana membuka ruang baca atau membuka media belajar untuk anak. Saya tak punya rencana besar untuk para ibu. Mungkin saya terlalu khawatir, apatis atau apalah namanya terhadap kondisi anggota PKK RT yang berusia di atas saya. Saya selalu merasa, mereka jauh lebih pandai, tahu dan paham pada kehidupan dan pengetahuan sehingga tak perlu lagi ilmu baru. Baik soal masak-memasak, perawatan anak hingga masalah kesehatan. 

Seiring waktu..dugaan saya salah.
Ilmu pengetahuan banyak yang diperbarui. Informasi banyak yang mudah terkoneksi. Mereka pun ingin mendapatkannya namun satu hal, tak semua orang adalah sosok "curiosity audiens". Membaca kondisi itu, saya melihat, betapa tak akan lakunya rumah baca saya jika mereka pun terlalu suka dengan siaran televisi dibandingkan menyediakan waktu untuk membaca dan menelaah isi bacaan. Betapa nyamannya mereka mendengarkan informasi dibandingkan mengorek dan merangkumnya sendiri. Mereka adalah tipe penerima: receipt people.
Lebih suka tak berusaha mencari informasi dan hidup pasrah dibandingkan bersusah payah menghabiskan waktu untuk berpikir. 
Jadi strategi apa yang harus saya lakukan?  

Setiap awal tahun, saya selalu berkaca. Saya menyukai perubahan. Apakah saya juga akan melakukannya kepada warga sekitar? Beranikah saya? Apakah yang saya takutkan? Penolakankah? Cibirankah? Atau gunjingan menyebalkan?

"the possibility of failure is beautiful of the possibility of sucessful"
(Mario Teguh-15 Januari 2015)

Hari itu, saya dan suami melakukannya. Titik awal yang membuat saya mengetahui selera warga. Dan titik awal kehidupan saya selanjutnya.

Penyuluhan tentang KRPL bersama Tim Penyuluh Kecamatan 

antusiasme warga dalam memerhatikan proses pemindahan bibit

berjalannya Buletin Bulanan di setiap pertemuan dasawisma
 "memajukan diri akan memungkinkan menjadi orang yang lebih maju"
Dan semua itu pun berjalan baik. Saya memilih menjadi pemberi pengetahuan secara perlahan. Menyediakan waktu dan bersikap melayani. Melakukan dengan sepenuh hati. Menyarankan yang terbaik untuk mereka demi manfaat di masa mendatang..dan bahagia saat salah satu di antara mereka berkata "resep dari buletin kemarin sudah saya coba. Banyak yang suka lo.."

Membaca tawaran paket tutorial gratis dari Mbak Susi Susindra, membuat naluri saya tergerak. Jika keberuntungan itu berpihak, ini bisa menjadi program andalan di bulan berikutnya yang tak terduga dan jelas istimewa. Ini pasti diminati mereka yang senang berkreasi dan mendatangkan peluang bisnis. Video ini sangat berarti bagi kami, perempuan muda dan penggemar bunga flanel. Video ini adalah angin segar yang bisa disebarluaskan tak hanya setingkat rukun tetangga (RT) tapi juga RW, kelurahan bahkan bisa disiarkan di radio dengan terjemahan kata. Semoga..semoga tercapai kesempatan itu.

Sabtu, 20 September 2014

Wisata Keluarga (Off Road) 100 Ribu, Bikin Ketagihan!

Berwisata tak hanya menjadi agenda masyarakat kota. Belakangan, masyarakat menengah ke bawah pun menyediakan anggaran untuk jenis kebutuhan tersier ini. Laiknya saya dan keluarga yang tertantang melakukan perjalanan menggunakan kendaraan roda dua dengan modal minim, 100 ribu. 
Ya, selembar uang merah ini sangatlah cukup jika melakukan wisata keluarga di dalam kota sendiri dengan kendaraan pribadi. Ongkos paling besar biasanya terletak pada urusan transportasi dan makan. Selebihnya kami harus mengatur taktik agar anak-anak tetap bermain tanpa mengeluarkan uang (kecuali terpaksa hehehe..). 
So kami memilih meresapi keheningan di kaki Gunung Slamet sebagai pilihan untuk menghirup udara pegunungan dan menyaksikan keindahan alam bebatuan besar di Desa Semaya, menyaksikan Bukit Cendana yang megah hingga melawat Petilasan Kamandaka di Batur Agung. 

sudut tepi Desa Melung dalam coretan kuasa Ilahi (pukul 11.50)
Oleh karena itu ada beberapa teknis yang harus dipersiapkan agar perjalanan lancar dan aman, yaitu:
  1. Kondisi ban yang prima (tidak gembes, kencang dan tidak gundul di permukaannya)
  2. Persediaan busi sebagai cadangan jika motor tidak bisa digas
  3. Aki motor yang ok!
  4. Rem yang pakem
  5. Bensin yang terisi penuh: 6 liter (Rp 42.000)/2 motor
  6. Kondisi helm yang standar dan aman untuk pengendara
  7. Jas hujan anak dan dewasa yang terpasang di motor
  8. Tas plastik sebagai tempat sampah dan barang cadangan 
  9. Bekal
Persiapan bekal menjadi bahan pertimbangan penting berikutnya sebab warung makan bisa jadi sulit ditemui di tepi jalan. Oleh karena itu untuk menghindari kerewelan anak-anak yang lapar juga letih, saya menyiapkan bekal sendiri yaitu nasi dan bandeng goreng  untuk tiga anak, tiga botol air putih ukuran 300ml plus 3 susu kotak (Rp 7500); dan 6 kue pukis (Rp 6000) siap dikemas dalam tas ransel..

Bukit Cendana nampak megah di belakang kami  (pukul 12.21)
Purwokerto adalah kota sejuk yang unik.Hujan seringkali datang tak tentu waktu dan menjadi penghalang bagi yang ingin dolan-dolan di kaki gunung. Panas pas tengah hari adalah musuh kenyamanan bagi anak-anak saat berkendara roda dua. Untuk mensiasatinya, jas hujan, topi, kacamata dan jaket menjadi syarat mutlak. Jangan lupa membawa serta pakaian cadangan dan handuk, sebuah tindakan alternatif jika anak-anak tergoda main air di sungai yang jernih atau jika mereka kehujanan
Lama perjalanan untuk mencapai tiga lokasi dengan kecepatan sedang, berkisar 3-4 jam. Jika ditambah istirahat, cari rute, makan dan shalat maka akan bertambah menjadi 5 jam. Saran terbaik memulai perjalanan adalah pagi hari setelah sarapan dan bulan Juni - Agustus adalah bulan terbaik untuk melakukan perjalanan semacam ini. 

persemaian padi beradu padu di antara bebatuan besar di Desa Baseh  (pukul 13.29) 

Sayangnya, kami cukup siang mengawalinya. Pukul 11.00 kami baru bergerak menuju jalan raya. Rute dimulai dari Ds.Kedungwuluh - Ds.Kober - Ds.Bobosan - Ds.Karangsalam - Ds.Beji - Ds Karangnangka - Kutaliman - Ds.Melung. 
Tiba di Desa Melung pada musim kemarau memang lebih aman dibandingkan pada musim hujan. Topografi naik turun berkelok disertai beberapa kerikil yang berserakan cukup menyulitkan perjalanan jika kurang hati-hati pada kondisi hujan. Bersyukur kami bisa melaluinya dengan selamat. 
Kami meneruskan perjalanan menuju Ds. Windujaya (Dukuh Peninis) - Dukuh PondokLakah Baseh dan tiba di Desa Semaya. Semaya berhasil dilalui setelah menempuh jalanan menanjak terjal yang menyita energi kendaraan. Optimis tanpa harus menengok ke belakang adalah kunci keberanian mencapai desa ini, desa tertinggi di Desa Sunyalangu Kecamatan Karanglewas. Maklum saja salah satu motor kami adalah motor lawas (Honda Astrea '88). 

petani Desa Semaya menepikan kolang kaling untuk diolah
 Kabarnya, sebelum proyek pengaspalan masuk desa, wilayah desa ini dipenuhi batu sangat besar dan penduduknya membangun rumah di atas bebatuan.

beberapa rumah berdiri kokoh di atas bebatuan


bebatuan gunung bertebaran dan ditata rapi oleh petani demi sawah mereka
wow jadi ciuuut berdekatan dengan batu super besar (pukul 13.30)


serunya anak-anak mandi di Kali Logawa, Desa Semaya (pukul 13.34)

Di Semaya, kami berputar mengelilingi desa lalu meluncur turun dan menyaksikan pemandangan di sebelah utara, rombongan anak-anak yang sibuk bermain air di Kali Logawa. Di sebelah selatan, sebuah tempat pemandian dibangun secara komersil. Rupanya seorang warga yang berkecukupan dan berjiwa bisnis, memanfaatkan aliran deras curahan air dari Kali Logawa, dan menampungnya menjadi Waterpark Batur Agung. Anak-anak sudah pasti tergoda dan merajuk masuk mencicipi dinginnya air yang bersumber dari Gunung Slamet tersebut. Namun kami memilih turun menuju Baseh, mencari mesjid untuk dhuhur sejenak.


Cagar Budaya Batur Agung  (pukul 14.25)
Sesudah shalat, kami sengaja menyambangi Cagar Budaya Batur Agung yang terletak sekitar 50 meter dari Masjid Baseh. Tempat ini dijaga oleh seorang juru kunci dan banyak dikunjungi oleh mereka yang meminta "sesuatu". Saat kami berkunjung, suasana tampak sepi. 


bebatuan berlumut mengawali perjalanan menuju petilasan Raden Kamandaka, rumah bercat putih  (pukul 14.15)
Konon tempat ini adalah tempat pertapaan Raden Kamandaka dari masa pelariannya tapi yang membuat saya terpesona justru aneka tumbuhan berusia tua dan berlumut yang berdiri gagah di sekitar petilasan.



Rumah bercat putih di atas sepertinya dibangun agar tempat petilasan tidak berlumut dan rusak. Tak perlu bayar memasuki wilayah ini namun pengunjung dapat memberikan uang sukarela kepada juru kunci tanpa batasan nilai. 


inilah petilasan Raden Kamandaka
Juru Kunci akan membiarkan anda memohon sesuatu di tempat ini, namun jika anda tak percaya dengan hal gaib (termasuk kami sekeluarga)..maka cukup nikmati saja suasananya dan hirup udara segar yang mengalir dari pepohonan tua berbanir seperti "angsana" yang layak dijadikan wahana eduvironment (education and environment).



Keluar dari Cagar Budaya Batur Agung, anak-anak masih penasaran dengan pemandian air Batur Agung. Kami pun naik dan membeli tiket masuk. Biaya 10.000/orang menjadi peraturan resmi. Namun karena kami membawa dua balita dan satu anak, di hari Kamis (bukan hari libur/weekend) maka kami menawarnya menjadi 20.000. Beruntung sekali, kami diijinkan. Serasa beruntung di kaki gunung! Wahana ini lebih aman untuk anak-anak meski Wisata Batur Agung juga menyediakan flying fox di dekat petilasan. Tapi karena suasana wisata bener-bener sepi "nyenyet" jadi pilihan jatuh pada "main air" yang lebih seruuu tentunya.



Wahana yang disajikan di Waterpark Batur Agung hanya berupa pemandian dengan tiga kolam berbeda ukuran, yaitu kecil, medium dan dalam. Selebihnya tempat ini  ditambahi dengan perosotan berair, lingkaran pelangi dan beberapa pancuran. Jangan tanya soal kesegaran airnya karena bbbbrrrrrrrrrr saat saya menyentuhnya...

mulai beraksi di air dingin (pukul 15.03)

Meski sederhana, pemilik waterpark tetap memelihara lingkungan dengan membiarkan pepohonan asli bertebaran tumbuh di sekitar pemandian, contohnya pucung penghasil kluwek, durian, dan manggis. Mainan anak-anak kecil berusaha dipelihara apa adanya. Dua kamar mandi bersih tersedia sebagai ruang ganti. Sayang, beberapa gazebo tak terawat terlihat merana di sudut-sudut. Rupanya tak banyak pengunjung yang datang kemari. Alasannya sederhana, menuju ke pemandian ini, membutuhkan usaha keras karena medan yang wow. Tapi bagi kami ... dan tentunya pembaca pecinta tantangan, sampai disini adalah kebahagian yang memuaskan.


mendung tra la la la..siapkan jas hujan honey
Awan mendung telah menggelanyut manja di atas bukit. Udara berhembus dingin..segera kami berkemas lekas-lekas mengejar waktu dan berusaha menghindari butiran air yang sepertinya tengah terkumpul di sudut langit atas Gunung Slamet.
Kami memutuskan melewati jalan yang halus. Bukan lagi rute berangkat yang terlalu beresiko untuk dilalui di sore hari. Menembus jalan beraspal mulus temurun, sangat menghemat bensin. Namun siapkan rem tangan dan kaki dengan baik. Jangan mengantuk dan prima-kan pandangan anda! 
Daaaan Desa Dawuhan berlalu dari pandangan kami. Tapi tunggu..ada yang menarik. Desa ini adalah desa sentra penghasil bibit tanaman, baik tanaman keras, tanaman perkebunan dan tanaman pertanian.
Tak salah jika kami mampir sejenak mencari buah tangan: bibit-bibit tanaman langka.

pose sejenak di antara bibit tanaman gowok dan matoa 
Kami menghampiri kediaman Ibu Tinah Sholeh. Ia menyediakan 30.000 bibit tanaman keras/kebun (damar, matoa, durian, kelengkeng, rambutan, manggis, gowok, pulai, jenitri, palem, gayam, pucung dll) sejak 15 tahun yang lalu. Usaha ini dirintisnya bersama sang suami dengan mengandalkan kebaikan hujan dan aneka benih yang tersebar di hutan. Hingga pembenihan buatan yang dikumpulkan dari biji-biji buah. Pemerintah daerah kerap kali meminta bantuannya untuk menyediakan bibit tanaman penghias jalan. Kami langsung jatuh cinta pada beberapa jenis tanaman yang dijual murah.
Kami memilih bibit gayam, gowok, menteng dan mundu yang dijual 2000/bibit. Bibit ini termasuk jarang ada di daerah perkotaan.


areal pembibitan yang lebih layak disebut hutan..hebat Bu Tinah!
Berbekal bibit langka, kami pulang dengan senang. Anak-anak telah mendapatkan banyak pengalaman dan pengetahuan yang berbeda hari itu. Demikian juga saya, belajar melihat kehidupan orang lain dari kacamata berbeda dengan modal 100 ribu. Tak salah jika jalan-jalan yang kami lalui masuk di BLOG JALAN-JALAN dan menjadi rekomendasi menarik saat anda sekeluarga berada di Purwokerto.
So, mari kita rinci:
Bensin   : Rp 42.000
Kue dan susu: Rp 13.500
Biaya masuk Waterpark: Rp 20.000
Beli bibit : Rp 16.000
Total: Rp 91.500
Sisa: Rp 8.500

INGAT!
Cek kendaraan untuk menjalani wisata off road  Selain jalan yang menurun-menanjak, kerikil dan bebatuan cukup banyak bertebaran di jalan. Jadi ketrampilan mengendarai dan kesabaran pengemudi turut diuji. Pun, sebaiknya tidak mencoba ngebut di tempat ini! Selain rugi melewatkan kesegaran aroma hutan dan pemandangan yang sangat indah bak lukisan, sangat tidak aman menuruni jalanan dengan kecepatan tinggi.


Banner 2 e1407906312777 Jalan Jalan Modal 100 Ribu Giveaway
   
PEMENANG PERTAMA GIVEAWAY JALAN-JALAN MODAL 100 RIBU


Kamis, 24 Juli 2014

Beropak Ria di Hari Nan Fitri

Dalam hitungan hari menjelang lebaran, persiapan khas yang dilakoni sebagian ibu dan remaja putri adalah membuat aneka kue kering seperti nastar, kaastengel, kacang bawang, putri salju dll. Jenis kue-kue tersebut umum disajikan sebagai teman meminum teh, sirup atau kopi. Namun di keluarga saya yang bermukim di Purwokerto, ada satu camilan yang tak pernah terlewat di atas meja tamu, yaitu Opak Wonosobo.

"opak disajikan bersama kecap pedas..sangat pas!"

Opak yang satu ini telah lama ikut disertakan di antara deretan toples cantik. Ini berawal dari kiriman salah seorang saudara yang bermukim di Wonosobo. Ia mengenalkan satu snack khas dari kota mereka. Awalnya opak yang hadir berwujud lingkaran besar, lalu menyerupai perangko dan tahun ini berbentuk lonjong. 

"sebungkus opak ini bisa buat rame-rame" 
Saudara kami pun kerap menjadikan opak sebagai bingkisan oleh-oleh jika ada tamu dari luar kota mampir ke rumahnya di daerah Kalibeber, Kalianget. Opak singkong yang ringan, harga terjangkau (Rp 10.000/kg) dan bercitarasa gurih-memikat, menjadi bahan pertimbangan utama saat berkunjung ke kota sejuk ini. Jadi tak hanya manisan carica dan jamur saja lo yang patut dicoba dari Wonosobo. 

opak wonosobo yang masih mentah berbentuk lonjong
sayang ga punya dokumentasi opak perangko, unik banget lo bentuknya..

Berbicara soal kreatifitas, opak yang banyak digarap oleh kaum hawa di Wonosobo ini diciptakan berbeda daripada opak sampeu yang ada di Sukabumi atau daerah sekitar Jawa Barat. Opak Wonosobo terbuat dari singkong kupas yang telah dikukus, ditumbuk hingga halus dan diuleni bumbu rempah seperti bawang putih, garam, gula dan dicampuri irisan kucai. Opak rasa original tersebut, masih diminati hingga kini. Seiring waktu, menyesuaikan selera pasar, telah ada opak aneka rasa. Ada opak rasa nangka, anggur dan pandan hingga balado yang per bungkusnya Rp 13.000/kg. Jadi ga kalah sama penampilan makanan ringan yang menjamur di swalayan hehehe. 

proses pencetakan opak secara manual
sumber: http://nyong-wonosobo.blogspot.com/2013/07/
Lalu daerah mana sih yang sebenarnya menjadi sentra Opak Wonosobo???
Sekedar pengetahuan, Desa Kalibeber dan Kecamatan Sapuran adalah penghasil opak. Mereka menyebut opak jenis ini sebagai Opak Kucai. Alasannya ada kucai di dalam opak. Makanan ini dibuat dari bahan dasar singkong, yang direbus dan ditambah sedikit kucai serta garam secukupnya, lalu ditumbuk hingga halus, kemudian dipipihkan dan dijemur, setelah kering siap untuk digoreng dengan minyak panas hingga matang. 
Homeindustry opak menggiatkan masyarakat dan menghidupkan perekonomian desa. Kini Opak Wonosobo merambah hingga ke luar kota Wonosobo. Tampaknya geliat energi perekonomian Desa Kalibeber dan Kecamatan Sapuran begitu hebat. Mereka adalah modal terwujudnya ekonomi kreatif yang sedang digalakkan oleh Menteri Pariwisata dan Perekonomian Kreatif, Mari Elka Pangestu. 


 
opak bersanding dengan sup buah saat berbuka
Sebagai camilan, tentu opak dianggap umum di Wonosobo. Di rumah kami, opak adalah suguhan istimewa. Opak yang telah digoreng adalah camilan lintas generasi. Sangat disukai oleh anak-anak hingga orangtua. Mertua saya yang sudah sepuh (tua=78 tahun) masih senang dan gemar dengan opak ini. Rahasianya ternyata terletak pada kerenyahannya. Opak tidak keras saat dikunyah. Bumbunya pun pas dan tidak membuat eneg atau gatal di tenggorokan. Tentu aman dikonsumsi anak. Asal menggunakan minyak yang jernih saat menggorengnya.

opak gurih nan renyah jadi rebutan 
Proses penggorengan opak relatif cepat. Dengan api sedang dan minyak panas, opak akan melar dan matang. Opak tak perlu dijemur di bawah panas matahari dan opak yang mentah dapat disimpan selama berbulan-bulan di tempat yang kering dan tertutup rapat. 
Pernah nih, opak yang diberi oleh saudara menumpuk di lemari. Segera saya jemur dan pisahkan agar tidak saling melekat. Namun kondisi itu tak mengurangi rasa opak. Tetap enak, .. tak ada yang berubah.

saat proses penggorengan opak


opak yang telah matang, berwarna sedikit kecoklatan

Opak adalah tanda mata yang spesial. selain karena murah, harganya terjangkau, masyarakat selalu suka dengan opak. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Opak Wonosobo menjadi oleh-oleh saudara yang berkunjung ke Purwoketo. Saudara yang berdomisili di Wonosobo, kerap menjadikan opak sebagai cangkingan karena kami sekeluarga pun keranjingan dengan rasanya yang gurih dan renyah.. 
Jadi jika ingin bawa oleh-oleh Wonosobo, belilah opak dalam jumlah banyak! Opak bisa dibagi-bagi ke tetangga dan kerabat. .. pasti ga nolak deh hehehe

"tua muda teteup suka sama opak..Hidup Opak Wonosobo!"
Nah, di hari jadi Wonosobo yang ke 189 pada 24 Juli 2014 ini, tak ada salahnya jika mencicipi opak sambil bernostalgia dengan indahnya alam sejuk Wonosobo. Apalagi sambil menikmati bersama keluarga di hari yang fitri beberapa hari lagi..wuiiih, pasti seru dan menyenangkan!!
So,...buat pembaca yang belum sempat mencicipi opak, sempatkanlah membeli saat main ke Wonosobo! Opak Wonosobo tersedia di berbagai toko oleh-oleh, pasar hingga warung rumahan. Lebaran yang akan kita jelang pun bakal kriuuuk dengan hadirnya Opak Wonosobo.
Selamat Hari Jadi Wonosobo: Kota yang Indah dan Sejuk
 "Semoga Makin Maju dan Lestari dalam Mengembangkan Keanekaragaman Budaya"
Postingan artikel ini diikutsertakan dalam Giveaway #HariJadiWonosobo189 

Giveaway #HariJadiWonosobo189
Add caption

Minggu, 23 Maret 2014

Wambut dan Lelembut

Saya baru mengenal wanita itu 10 tahun. Waktu yang singkat menyelami sikap dan tutur kasihnya. Lelaki di sebelahnya telah mengecap kehidupan bersama lebih dari 46 tahun. Nyaris memasuki tahun emas menurut orang yang suka beristilah. Perkenalan kami akibat sebuah pertalian, antara aku dan lelaki lembut. Ya, jika pun Tuhan tak berkehendak maka aku tak pernah mengenal kehidupan yang lembut pula. Dan jalan kelembutan itu ada melalui wanita ini.

Wanita tua begitu santun dalam bersikap dan jarang berkeluh kesah. tak pernah kudengar ada resahan dengan teriakan atau bahkan dentingan suara benda di rumah. Terlalu kasar mungkin baginya namun mungkin tidak bagi sebagian orang yang terbiasa melakukannya. Wanita ini tak pernah melampiaskan kejengkelannya pada manusaia dengan ucapan yang tak pantas. Ia mungkin mengeluarkan himpitan dadanya dengan bercengkerama pada Tuhannya. Sungguh aku terpana dengan kemampuannya mengendalikan diri. Bahkan aku tahu, hidup yang tua, tak pernah lepas dari masalah. Masih saja ada meski itu kini bukan urusan penting untuknya tapi wanita itu sangat bijaksana. Mampu mengelola emosinya. Wanita itu paham, sertifikat rumah terus saja bersekolah di tempat yang tak semestinya hingga ada tanggungan setiap bulan. Ia pun harus memaksakan diri mengeluarkan jatah pensiun demi anak dan cucunya yang menempel karena belum mandiri. 

Ah wanita itu..ia selalu membuatku iri.
Ia yang terdidik dari lingkungan yang disiplin dan terhormat, tidak semena-mena pada yang lebih rendah dari kehidupannya. Ia selalu ngemong dan wibawa. Sejuta pujian tak akan habis untuknya. Karena aku akan selalu terpana pada kemampuannya mendidik lelaki lembut yang kini mendampingiku. Lelaki yang selalu mengingatkan suara kerasku. Lelaki yang selalu mencubit ketika aku tak sopan pada orang lain. Bahkan lelaki yang bersedia menyuapi generasi penerus kami tanpa canggung di depan para  ibu.

Lalu apa yang terjadi antara wanita itu, lelaki lembut dan luka?
Adakah luka yang tergores di antaranya??

Setiap orang punya persepsi berbeda tentang luka. Mereka bebas berpendapat tentang luka dan penyebabnya. Lain lubuk lain pula perilaku manusia. 

Luka yang kusebutkan kelak adalah sesuatu yang telah menumpuk dan tertimbun hingga 'nyenyeh'. Sejalan dengan itu aku sebenarnya tak ingin berbicara tentang luka lagi. Aku ingin bicara tentang hal yang menyenangkan. Karena luka pada seorang wanita yang pernah mengelus dan mengasuhku penuh kasih ingin kuhapus. Semua tentu karena wanita lembut tadi. 

Ada hulu ada hilir. Wanita lembut itu menyisakan pelajaran tak tertulis pada lelaki lembut tentang kelembutan dan cara hidup. Ia menuntun lelaki lembut bersikap bijak dan tak kasar pada siapa pun termasuk pada orang yang menyakitinya. Aku adalah anak didik lelaki lembut.

Padanya aku belajar menyadari kesalahan. Sebuah kesalahan yang disebabkan oleh keadaan yang terlanjur salah. Kesalahan yang harus diwaspadai untuk diputus talinya agar tak terjadi kesalahan yang sama pada generasi berikutnya. Jangan sampai ada dendam dan rasa cemburu yang besar karena ini semua. 

Aku terlanjur terluka karena sikap wanita yang mengasihiku. Ia tiba-tiba berubah bagai orang asing di hadapanku. Ia bersikap sangat berlebihan, melindungiku dengan cara yang kurang tepat. Ia berusaha menjauhkan aku dari keluarganya sendiri. Ia tak mendukung hidupku. Ia menjadi tak perduli. Ia...ah ia ..sungguh bukan ia yang dulu. Cemoohan warga di sebelah rumah dan saudara mulai terdengar. Ia selalu berbeda pendapat dengan orang terdekatnya. Tak ada yang benar di matanya. Ia kehilangan kendali. Aku juga. Aku letih menghadapinya, aku sedih, kecewa dan bingung. Antara luka dan tanda tanya menguak membantai isi kepala. Aku selalu merenung mengapa tak pernah berakhir kisah ini? Mengapa harus terus menahun tanpa ada jalan keluar? 
Hingga di suatu waktu..aku harus sadar ia mungkin ada di suatu titik kehidupan yang berbeda. Ia mengalami goncangan. Semua orang bisa mengalaminya.. Mungkin ia tak pernah kuat menahan degup gempa kekalutannya sendiri. Mungkin ia pernah takut kehilangan anak-anaknya. Ia mengalami sesuatu yang tak dapat ia bagikan pada orang lain, juga pasangannya. Ia tak bisa memahami keadaannya sendiri. Ia membutuhkan bantuan..!

Selama bertahun-tahun wanita itu terkurung dengan egoismenya. Ia hidup dalam pikirannya yang benar. Ia adalah pemimpin dalam jiwanya. Ia tak dapat berkomunikasi lagi dengan kami. Dan aku terlanjur bersikap luka. Menunjukkan koreng-ku seakan-akan hanya aku, bukan dia yang kecewa..dan aku salah! Terlambat menyadarinya!

Aku terlanjur salah dalam bersikap, egois.

Lelaki lembut yang baik itu selalu mengingatkanku. 
"Bersikap baiklah padanya..tak ada yang lebih baik daripada bersikap cinta agar cinta itu tumbuh kembali.."
karena cinta dari pasangannya telah usang di mata wanita itu. 

Klise namun mengena. Aku selalu tunduk pada ucapan lelaki lembut. Ia mencontohkan kasih sayang dengan sesuatu yang bukan bualan. Kasih wanita lembut telah membuktikan hasil nyata bahwa lelaki lembut adalah sebagian anugerah dari perilaku kelembutan. 
Lalu ..luka yang menganga berusaha kukikis di awal 2014. 
Jika ini terlalu lama, tak apalah. Aku menyesal tak berusaha dari dulu, mengalah dan menunjukkan cintaku padanya. Aku terlalu sibuk dengan alasan duniawi. 
Kini, aku tak ingin mengukur berapa jam sudah berlalu hidupku tanpanya..atau berapa banyak tetes genangan kesedihan yang bergelanyut menyita semangatku karenanya.. 
Aku ingin membuang semua bentuk ukuran itu!
Aku ingin menyisakan keceriaan dan kebahagiaan senyum anak-anakku bersamanya. Aku ingin menyingkirkan duri di antara kami. Aku yang terlahir dari rahimnya berharap Tuhan Maha Mengerti kekeliruannya. Karena aku bersyukur ada wanita lembut (wambut) dan lelaki lembut (lelembut) penyemangat hidupku yang meredam luka di ujung jiwa. Dia dan dia penghimpun cermin yang pernah retak.





Sabtu, 22 Februari 2014

Lestarikan Forum Lingkar Pena Purwokerto


banner milad

Siang yang terik pada sebuah waktu di sepanjang tahun 1998-1999. Annida menjadi majalah kesayangan mahasiswi kere seperti saya. Cerita-cerita sederhana dan bijak, begitu ringan menyentuh. Itulah awal berkenalan dengan sang Pendiri, Mbak Helvy Tiana Rosa yang belakangan akhirnya mendirikan Forum Lingkar Pena (FLP). 

Ada rasa iri, andai saja bisa menulis sebagus beliau. Tapi mungkin cemburunya kepada andai saja bisa dapat kursusan gratis dari empu penulis macam Mba HaTeeR. Memang mimpi..Tapi tatkala mendengar di Jogja dibuka FLP, rasa sukacita semakin terbuka. Senang banget tiada tara. Koq bisa ya? Padahal belum jadi anggotanya dan ga tahu akan apa yang dilakukan disana?

Suatu hari saat bermain ke gedung pusat, saya melihat pengumuman akan ada pertemuan mingguan disana. Ini menjadi catatan penting. Saya catat dan ingat. Hari rabu sore pukul 3 pertemuannya. Cukup berat. Mengapa? 
Karena kos saya jauh dari kampus. Butuh kesabaran jika harus pulang sendiri, lalu jika kesorean?? Akan sama siapa saya pulang? Ah..payah sekali. Kenapa baru sekarang di saat saya sedang ga ada kegiatan dan ingin bisa belajar menulis, jadwal kehadiran FLP menjadi tantangan.

Iseng-iseng, melalui majalah Annida, saya mengetahui alamat Ketua FLP..wah koq berada dekat dengan kos saya ya? Saya agak lupa, kalo ga salah inisialnya "G". Cuma berjarak 100m pula..Hati riang sekali. Kesempatan kedua nih. Bisa tanya-tanya tentang kegiatan sama ketuanya. Tapi semua berlalu begitu saja. Rumah sang ketua selalu tertutup rapat. Saya tak berani mendekatinya. Saya pun kembali menganggur dan menutup harapan.

Awal 2010..
Rasa penasaran kembali menggoda. Ingin mengetahui apakah di kota mendoan, Purwokerto, FLP juga aktif seperti di kota lain? Setelah dikulik-kulik, saya hanya bisa melihat perkembangannya yang telah lama vakum. Sayang sekali. Saya sempat menghubungi salah satu pengurus di blog-nya. Lalu terjadi percakapan singkat bahwa FLP di tempat saya berdomisili kini tak lagi aktif. Ah andai saja..ada kegiatan itu, pasti tak lagi sepi hari-hari saya. Setidaknya ada kesibukan selain mengurus anak dan rumah tangga. Juga ada mimpi yang terwujud = "belajar menulis".

Sekarang komunitas penulisan merambah dunia online dan bertebaran di pelosok nusantara. Tak lagi harus bertatap muka berjabatan tangan. Cukup satu klik saja sudah terhubung. Tapi kerinduan akan hadirnya Forum itu di tanah suami saya, tetap ada. FLP tetap memiliki misi yang berbeda dibandingkan lainnya. Ada sisi humanisme dan garis keislaman yang ditegakkan.. dan itu belum saya temukan = selama proses pencarian kepenulisan = beberapa tahun belakangan.

Semoga di milad-nya yang ke-17, FLP semakin jaya, tetap bergelora mengembangkan sayapnya dan benderanya berkibar senantiasa. Maju di dunia nyata dan maya! Barokah dan disayang seluruh penulis nusantara.
En..bisa bangkitkan di Purwokerto kembali seperti sediakala. 
Ayo..kami tunggu kehadiranmu FLP!