Tampilkan postingan dengan label menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label menulis. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 Mei 2015

Bismillah in Rajab

I miss it..bisik Nessa pelan.
Ia mengucapkannya dengan bisikan lembut, nyaris tak terdengar siapa pun di ruangan itu.

I miss you, My Allah..in my heart.
Iam so scared if I lost you..

Nessa menuliskan kerinduannya dengan tetesan air mata. Ia tak mengerti mengapa belakangan ia sedih dan sangat sedih jika harus kehilangan kesempatan berjumpa dengan rabbNya. 
"Jangan sampai...aku tak ingin sendirian ya Allah" pinta Nessa menjelang matanya lelap.

"Biarkanlah mereka, Nessa. Kau sudah cukup lelah dengan semua ini. Bukannya aku tidak menyetujui keinginanmu membantu mereka. Hanya perjuanganmu sudah cukup. Mereka pun sudah layak berjalan sendiri," bisik hatinya sendiri.

Saatnya untuk meletakkan kepalaku di sisi yang lain.
Mungkin ini saatnya menyambut Ramadhan dengan satu pintu..hanya untuk pertemuanku dengan ramadhan dan Allah..begitu Nessa bergumam..terus bergumam.

"Ya Allah..ijinkahlah aku bertemu dengan ramadhan tahun ini bersama ketiga anak-anakku dan pasangan jiwaku..bersama seluruh kerabatku. Ijinkanlah aku memeluk Mama saat fitri nanti..ijinkanlah aku ya Allah..ijinkanlah...

Ijinkanlah kami ya Allah

#amin

Selasa, 12 Mei 2015

Mimpi Berlibur

Nessa menghembuskan nafas panjangnya berkali-kali. Tak pernah ia bermimpi, seseorang akan memberikan kejutan terindah menjelang puasa ramadhan tahun ini. Ia terus berkedip dan mematut dirinya di cermin, menggerakkan pensil dan menusukkannya ke bibir untuk memastikan apa yang sedang dialaminya.
Sungguh!
Seperti mimpi baginya yang tak pernah memenangkan lotre jalan-jalan. Dalam hitungan hari, ia benar-benar akan meletakkan kepalanya untuk berlibur sesaat. Mengajak ketiga anaknya mengunjungi adik iparnya dan menyambangi Pulau Kamaro di Sumatera Selatan.
Benarkah..ada daya yang tak bisa dilepaskan dari sebuah keajaiban hidup?
Benarkah..perang batin yang nyaris menguasai hidupku sekian minggu itu, terbayarkan dengan berdamai pada kondisi ini.
Benarkah..mendiamkan sebuah masalah dan menggantungnya adalah sebuah keputusan yang tepat?
Benarkah dan benarkah semua itu?
Sebagai manusia beriman, aku cukup meletakkan doaku kepadaNya. Hanya Itu. Karena Dialah pemegang kendali. Bukan aku.

Kali ini, Nessa tak ingin berandai-andai lagi.
Kali ini, ia ikhlas dan ingin menjalankan perjalanan panjang ini dengan syukur.

Purwokerto, catatan 12 Mei 2015
#Galauyang takkunjungusai

Rabu, 04 Maret 2015

Membeli Tiket Surga dengan Tulisan (Behind the Scene Komunitas Ummi Menulis)

Bisakah tiket ke surga dibeli dengan tulisan? 


http://www.minterest.org/

Sebuah catatan yang ditulis oleh Syamsa Hawa

Logika sederhana saya, jika rajin berwudhu bisa mengantar Sahabat Bilal ke surga, memberi minum seekor anjing yang kehausan bisa mengantar seorang wanita tuna susila ke surga, dan memaafkan kesalahan orang di hari itu bisa menjadikan seorang sahabat yang terlihat biasa-biasa saja sebagai ahli surga, maka seharusnya tulisan pun bisa membawa penulisnya ke surga.

Saya juga percaya bahwa ada tulisan yang membawa penulisnya ke neraka, misalnya... Tulisan yang merangsang pembacanya untuk berbuat mesum, tulisan yang membangkitkan nafsu membunuh, atau tulisan dengan efek mengerikan lainnya. Jadi memang tulisan adalah sarana yang efektif, mau ke surga atau neraka, tergantung penulisnya saja, dan tentunya sesuai niat. Tulisan yang dibuat hanya untuk ditukar dengan sejumlah Rupiah atau Dolar, atau ditukar dengan popularitas, tentu saja berbeda dengan tulisan yang dibuat dengan hati dengan tujuan untuk saling mengingatkan. 

Nah, terbayang betapa beruntungnya saya mendapat kesempatan untuk menjadi admin yang memfasilitasi 50 orang dengan semangat menulis kebaikan? Ya, saya mendapat amanah untuk memandu Komunitas Ummi Menulis, sebuah komunitas baru yang digagas oleh Ummigroup untuk mengumpulkan penulis-penulis dengan visi-misi keislaman dan semangat berbagi kebaikan. Ada yang berasal dari luar Jakarta, luar Jawa, bahkan luar Indonesia. 

Jujur... Saya sebenarnya bukan orang yang lincah di sosial media atau grup whats app, sekian grup besar yang saya masuki rata-rata saya cuma pasif saja, hanya sebagai penikmat obrolan. Tapi sekarang saya harus menjadi admin?! Oke, baiklah, mudah-mudahan bisa amanah. Agak tidak menyangka, banyak penulis yang sudah kawakan dan namanya beredar di mana-mana pun, baik sebagai penulis buku maupun pemenang lomba kepenulisan, masih mau bergabung di Komunitas yang tidak menawarkan apapun selain wadah untuk berbagi ini. 

Dan, mereka semangat untuk menghasilkan tulisan yang bergizi untuk pembaca Ummi. Demikian pula ibu rumah tangga yang mendaftar komunitas ini, saya bisa bayangkan betapa kerjaan rumah tangga 24 jam sehari sudah sangat merepotkan, tapi mereka masih semangat menghasilkan karya, mengirim tulisan untuk berbagi. Bahkan ada siswa SMA yang belum genap 18 tahun, sampai plis...plis agar dimasukkan ke dalam komunitas ini agar bisa bergabung. Baiklah Dek, kamu jadi peserta termuda di komunitas ini. Hanya dibatasi 50 orang, dan lagi hanya bertemu di grup whats app, mungkin suatu saat bisa bertatap muka di gathering, akan tetapi saya bisa merasakan semangat berbagi yang luar biasa, dan saya merasa terhormat untuk menjadi fasilitator di komunitas ini. Bayangkan, ribuan tahun lalu Rasulullah Shalallaahu alaihi wassalaam bersabda, "Sampaikan dariku walau hanya satu ayat!" Jika masing-masing penulis menyampaikan tentang satu ayat saja, entah itu ayat mengenai kesehatan, kebersihan, kecantikan, kesabaran, kesyukuran, cinta, dan ayat-ayat lainnya, maka ada berapa kebaikan yang bisa disebarkan? Ditambah lagi jumlah pengunjung ummi-online dan annida-online yang mencapai 1,5 juta orang per bulannya, jika 1% saja dari pembaca merasakan manfaat dari artikel yang diposting, tentu ini menjadi sumber tenaga yang luar biasa untuk mencapai impian terbesar dalam menulis, apa itu? 

Ya, seperti yang sudah disebutkan di awal tadi, membeli surga, membeli keridhoan Allah! Tidak mudah untuk menulis di sela-sela waktu bekerja atau kuliah atau mengurus rumah tangga, saya paham sekali itu. Maka dari itu, saya mengapresiasi Sahabat-sahabat Ummi yang bersedia menyisihkan waktu dan pikiran untuk berbagi di komunitas
sumber: http://catlumb.com/

Ummi dan Annida ini media dakwah, milik kita semua, semoga akan terus demikian adanya di tengah gempuran media lain yang menghalalkan kebebasan sebebas-bebasnya.
Terimakasih dan selamat pada teman-teman yang telah bergabung, semoga Komunitas ini tak lantas menjadi beban, tapi justru semakin mempercepat Sahabat semua dalam mencapai impian sebagai penyebar kebaikan, semoga bergabung dengan komunitas ini membuat kita mendapat kesempatan untuk membeli surga-Nya, memperoleh ridho-Nya.
Aamiin.

Kamis, 19 Februari 2015

Menulis dan Zalora

Publikasi saat ini tak hanya mengandalkan keindahan gambar dan kecanggihan teknologi. Daya tarik kata-kata dalam menghipnotis pembaca pun berpengaruh. Zalora misalnya. Menghadirkan cara unik dengan menggandeng para blogger. Tujuannya jelas saja agar mereka dapat menuangkan ide menarik bagi para pembeli untuk sekedar meng-klik hingga membeli.

Hal itulah  yang membuat saya jatuh hati mereview Zalora. Zalora memberi tawaran menarik dan kompensasi yang ok buat penulis. Seperti yang telah saya lakukan seminggu yang lalu. Apa keuntungannya? Saya dapat voucher yg menarik untuk digunakan dalam pembelanjaan di Zalora tanpa pembelian minimum. Wow...! 

Beberapa hari kemudian, saya pakai voucher tersebut untuk membelikan sepatu si Sulung. Diskon yang besar plus kecepatan kirim membuktikan bahwa Zalora emang ok deh. Setelah pilih sana sini, kami memilih produk SPOTEC dengan tambahan nilai pembelian yang masih terjangkau. Dan tarraaaa inilah pilihannya. Dia pilih disini.

datang tepat waktu


penampakan sepatu kiriman ZALORA setelah diuji coba
So buat kalian yang tertarik cuci mata cari sepatu di Zalora..mulailah dan jangan ragu! Karena aku telah membuktikannya. Boleh juga buat cari-cari barang-barang lain lo...

Minggu, 18 Januari 2015

Artikel yang Berkualitas

Petikan ilmu di bawah ini saya ambil dari Kompas Klasika tertanggal 15 Januari 2015. Tulisan berjudul asli "Menggugah Akademisi Jadi Penulis Artikel Berkualitas" ini, layak disimpan. 




Saat menyiapkan kertas dan pena, pikiran penuh ingin ditumpahkan hingga bingung apa yang akan ditulis duluan. Semuanya begitu penting menurut versi kita. 

Tulislah semua yang terlintas dalam kepala. Bacalah kembali. Pisahkan bagian utama yang ingin disampaikan sesuai dengan tema dan bagian yang tidak berhubungan. Cara ini akan melahirkan ide yang orisinal.
Pisahkan emosi dan inspirasi. Banyak di antara kita yang berkoar-koar dalam menulis hingga lupa bahwa itu hanya catatan emosi. 
Gunakan bahasa populer jurnalistik. 
Buat lead (paragraf pembuka) yang menarik. Lead sebaiknya hanya 2 kalimat lalu tulis gagasan di paragraf berikutnya. 
Cantumkan kutipan (nama dan sumber) namun jangan terlalu banyak. Kutipan ini sebagai landasan agar artikel yang ditulis tidak sekedar pendapat yang tidak dapat dibuktikan faktanya. 
Menulis hingga mampu menggerakkan hati orang lain - is better .


Menulis bisa menjadi marketer untuk diri sendiri, lingkungan dan aktivitas sekitarnya.


Kunci "latihan terus menerus" tak hanya berlaku bagi anak-anak, orang dewasa pun perlu melakukannya. 

Minggu, 11 Januari 2015

Tugas Penulis

Penulis tak hanya menulis. Ada tugas menantinya setelah menuangkan banyak ide dalam tulisan. Ia harus berpikir keras agar menemukan ide untuk keberhasilan penjualan bukunya. Berikut ini petikan nasihat Ari Kinoysan untuk para penulis dalam mempromosikan buku.
  • Direct Selling
  • Bedah Buku
  • Promosi ke Berbagai Media
  • Isi Kelas pelatihan Penulisan
  • Book Signing
  • Roadshow Buku dari 1 Tempat ke Tempat yang Lain
  • Kuis Berhadiah Buku
  • Resensi Buku
  • Kado Buku
  • Iklan Berbayar


Buku Khasiat Ajaib Jeruk Nipis di TB Gramedia Jl Sudirman Purwokerto


Buku Khasiat Ajaib Jeruk Nipis
di TB Ganesha Jl Ovis Purwokerto

Buku Khasiat Ajaib Jeruk Nipis di TB Jogja Jl Masjid Purwokerto

Terima kasih untuk Bagian Promso Penerbit Andi yang telah bekerja keras.  

Kamis, 08 Januari 2015

Tips Menulis #5: Roh Naskah Layak Baca

Hai
Selamat malam..
Sudah selesai menulis? Baca kembali yuk naskah Anda.
Saat tulisan per lembar telah berhasil menjadi sebentuk halaman, ada baiknya kita baca ulang. Penulis biasanya memiliki gairah - hasrat menjadikan tulisannya bermutu dan laris manis bahkan everlasting (layak dikenang). Saat menulis, pastikan mencari ide segar yang "wow" dengan selalu memikirkan hingga memasukkan roh "yakin" itu:yakin bahwa ide Anda adalah ide yang layak dibaca oleh sekian ribu orang atau bahkan sanggup memengaruhi orang lain.

Jika Anda penikmat film anak-anak - Polar Express - maka Anda akan mendapat suguhan berbeda dari sekadar film natal. Dalam film itu, unsur natal memang utama, namun ada wacana lain yang coba disisipkan oleh sang penulis skenario terhadap film ini, yaitu memelajari karakter dari sudut pandang anak. Itulah sebabnya, film ini berbeda dengan film natal lainnya. Mencoba membuat penonton berpikir dan tak sekadar menikmati keindahan aurora di kutub utara atau kecanggihan teknologi dalam menghidupkan animasinya. 
Seorang anak yang "leader" selalu berani membuat keputusan dan bertanggung jawab pada keputusannya. Seorang anak yang terlanjur merasa lebih tahu dari sebayanya justru perlu belajar lebih banyak lagi terutama belajar tentang kesabaran dan tidak mudah serakah.

So, adakah di antara kita yang sudah selesai menulis namun belum menyisipkan roh "layak baca & beli" itu?? Pastinya sayalah itu..ok saya akan melakukannya malam ini. Selamat menulis kawan!

Selasa, 06 Januari 2015

Tips Menulis #4: Merindu Khalik

Hai...
Masih semangat menulis kan? Harus dong. Jikalau sedang galau dan enggan menulis, nulislah di tempat lain. Banyak media kan yang bisa menerima hasil pikiranmu? Ga cuma di kertas atau duduk manis ngetik. Bisa di tisu, di batu (jika kamu berkreasi dengan batu), di potongan kayu, di tembok dengan cara grafiti bahkan di selembar kain (tak hanya berwujud batik lo) 
Ngadat memang menyesakkan. Deadline yang tak bisa ditunda atau dikompromi bikin kepala cenut-cenut dan memengaruhi nafsu makan hingga berat badan.
Sebenarnya saat NGADAT paling nyaman dicurahkan pada Sang Maha Pemberi Jiwa. Masih ingat dengan Tragedi Air Asia baru-baru ini kan? Saya mengikutinya dengan antusias terutama pada "sharing pengalaman" pilot saat mereka di udara. Seorang pilot senior bercerita bahwa kejadian yang dialami pilot pesawat Air Asia saat itu, dapat terjadi oleh semua pilot. Hanya masing-masing pilot punya cara tersendiri untuk mengatasinya - di luar semua ilmu plus pengalaman jam terbang yang pernah dikantongi - ada area yang harus dikuasai oleh pilot dan juga penumpangnya. Yaitu area spiritual: Treatment Spiritual. Area ini jarang dipilih oleh manusia. Treatment adalah akhir dari ikhtiar kita. Bukankah kita diminta untuk selalu bersabar atas segala musibah yang digariskanNya? Iya. Kita bersabar dalam bentuk berusaha sekat tenaga - dengan segala cara, lalu kita serahkan dengan keikhlasan dan doa yang khusyu pada Nya Yang Maha Pemberi Hidup.  

Sama dengan menulis.
Ide adalah hidayah dari Tuhan. Merendahlah dalam sujudmu untuk meminta kecerahan dan kemudahan dalam menuangkan gagasan yang baik bagi pembaca. Seperti sosok ELizabeth dalam menuntaskan kegalauannya atas kegagalan perkawinannya - "eat, pray & love" - lalu berlayar menuju keheningan doa di India dan mengalami kebangkitan hidup di negeri dewata, Bali - dan berhasil menuliskan ritme hidupnya dalam buku.
Selamat berdoa dan menulis kembali.

Jumat, 02 Januari 2015

Tips Menulis #3: Berpikir Liar

Ya. siapa sih yang tak pernah berpikir lepas dan liar melewati pakem?
Saya rasa semua orang pernah melakukannya. Saat Anda sedang duduk santai melihat televisi atau duduk bingung menanti kendaraan umum, atau sedang galau karena urusan duniawi yang ga pernah jelas kepastiannya atau mungkin sedang ikut pusing dengan kejenuhan hidup saudara/tetangga/ bahkan keluarga sendiri maka pada saat itu biasanya kegilaan menjalari kepala dan otak Anda.
Saat saya jenuh dengan format non fiksi permintaan penerbit, saya diam dan bermalas-malasan. Memang itu ide buruk tapi siapa sih yang bisa memaksakan Anda jika kepala pun tak bisa di-charge lagi?

Khasiat Ajaib Jeruk Nipis 

Tahukah Anda..untuk menulis buku non fiksi yang jauh berbeda dengan buku nonfiksi bertema sama, bukanlah hal mudah. 

Inilah sekelumit kisah di balik proses buku Khasiat Ajaib Jeruk Nipis. Saat saya datang mengunjungi sebuah toko buku dan menemukan dua buku yang bertema sama untuk menambah pengetahuan saya, seketika saya tertekan, shock!
Dua buku tersebut membuat saya segera berpikir bahwa saya tak bisa menyusun buku ini! Waktu saya akan tersita dan buku saya mungkin tak akan laku karena penulis sebelumnya lebih dikenali (meski rentang waktunya telah lama). Akhirnya saya mendiamkan proyek tulisan jeruk nipis, berbulan-bulan. Bersyukur saya tengah hamil, sehingga ada alasan kuat yang mendukung keogahan itu.
Namun dua tahun kemudian, naskah itu berjodoh dengan saya kembali. Kali ini saya berpikir liar. Caranya?
  • Jangan malas berkeliaran di toko buku, perpustakaan juga bisa!
  • Googling itu sangat membantu. Ada banyak hal dan ilmu yang pastinya telah diperbarui selama sekian tahun bahkan satu dekade atau lebih. Ambillah itu.
  • Telaah lebih dalam. Semakin dalam Anda berusaha ingin tahu, semakin unik pengetahuan yang ingin Anda angkat.
  • Mencoba gaya bahasa berbeda dari penulis lain. Lebih ringan dan santai.
  • Kalau bisa minta lay out yang berbeda dengan cara membuat sendiri
  • Membuat dokumentasi sendiri, pastinya dengan mengeluarkan dana untuk model jepretan-jepretan Anda
  • Bikin manja pembaca - contohnya membuat kotak pengetahuan
Apalagi ya? Andalah penentunya..siapa pun bisa meliarkan diri 


Kamis, 01 Januari 2015

Tips Menulis #2: Improvisasi Kotak Pengetahuan

Apakah teman pernah melakukan improvisasi? 
Iya sebuah gebrakan yang berbeda agar tidak menimbulkan kebosanan pembaca juga penulisnya sendiri dalam menyusun buku. improvisasi tidak hanya pada buku fiksi. Improviasi bisa juga dilakukan pada buku non fiksi karena saya melakukannya pada buku Khasiat Ajaib Jeruk Nipis. Pada buku Khasiat Istimewa Sukun, saya masih mengikuti pakem non fiksi pada umumnya maka pada buku kedua ini saya mulai mengincar minat pembaca. Saya mulai melakukan survei di toko-toko buku dan memperhatikan isi buku non fiksi. Cara ini mempermudah saya mengetahui adanya perubahan gaya tulisan, susunan/format hingga warna yang ditampilkan. Cara ini sebenarnya membantu penulis untuk lebih segar dan semangat dalam berkreasi.
       
yuk bandingkan kedua halaman ini.ada yang beda kan?
Iya. Kotak Hijau di buku Khasiat Ajaib Jeruk Nipis saya anggap sebagai Kotak Pengetahuan. Kotak ini membantu pembaca singkat artinya mereka yang hobi membaca cepat di perpustakaan, toko buku, atau pembaca rumahan perlu menemukan hal-hal penting lebih cepat dan mudah. Kotak pengetahuan ini adalah sari ilmu yang bisa disisipkan dalam buku teman-teman penulis. Pakailah "feeling" dalam melakukan pemisahan untuk dimasukkan ke dalam kotak pengetahuan. Bagian mana yang sekiranya penting dan mana yang sekiranya kurang dicari tapi tetap perlu dijabarkan dalam buku kita. Pembaca, seperti saya yang suka hal-hal dinamis, biasanya tak ingin bertele-tele dalam mencari informasi dalam sebuah buku. Cukup menemukan kotak pengetahuan dan sebagian isi buku pun sudah bisa kita tebak "apakah patut dibeli atau tidak"
So buat kamu, teman-teman penulis ... marilah belajar berimprovisasi pada non fiksi.


Minggu, 14 Desember 2014

Menguak Rahasia Potensi Diri ala Beni Badaruzaman


Judul   Buku      : Brain Genetic Potential
Penulis              : Beni Badaruzaman
Penerbit            : Penerbit Mizania (PT. Mizan Pustaka)
Terbit               : Cetakan I, Mei 2014
Tebal                : 152 Halaman
Harga               : Rp.39.200
ISBN                 : 978-602-1337-11-0


            Pada umumnya setiap orangtua selalu menginginkan yang terbaik untuk masa depan anak. Prinsip tersebut berujung pada lahirnya satu impian yang diikuti terciptanya peraturan dalam rumah. Tak lain dan tak bukan agar anak mematuhi dan mengikuti garis nasihat orangtua sehingga mereka tetap berada dalam jalur ambisi keduanya. Cara ini seringkali dibuat orangtua demi memudahkan pengawasan perkembangan anak.
            Namun tak semua harapan orangtua bisa menjadi nyata. Belakangan peristiwa buruk kerap terjadi pada beberapa remaja yang mengalami tekanan batin dan berujung drop out. Sebagian besar masalah dipicu oleh kurangnya dukungan orangtua dalam menyikapi pilihan sang anak atau rendahnya hubungan komunikasi antar mereka. Kondisi tersebut kerap menimbulkan beban mental anak. Akibatnya anak sering menghadapi dilema dan susah mengutarakan hasrat. Hasrat belajar hilang, anak tak punya arah. Maka tak heran, kasus bunuh diri pada anak bersekolah cenderung tinggi.
            Sebagai jalan tengah ada baiknya orangtua melakukan komunikasi dan bersedia meluangkan waktu untuk mempelajari, mengamati sekaligus memahami potensi diri sendiri dan potensi anak. Dengan introspeksi diri, orangtua bisa memilih cara yang tepat dan sesuai dalam mendidik anak. Konsep ini adalah jawaban atas situasi bahwa setiap orang dipercaya terlahir dengan bakat dan kemampuan yang berbeda satu dengan yang lain. Oleh karena itu, cara penanganan tiap individu pun tak sama. Salah satu aplikasi tersebut adalah menggunakan metode STIFIn.
            Metode STIFIn yang diperkenalkan oleh Beni Badaruzaman dalam bukunya yang berjudul Brain Genetic Potential merupakan sebuah konsep yang terbentuk atas dasar pengetahuan tentang belahan otak manusia. Konsep kecerdasan otak akan menuntun pada kepribadian seseorang. Penulis buku ini mempelajari bahwa otak yang diciptakan Tuhan terbagi atas otak bagian kiri bawah (Sensing), otak kiri atas (Thinking), otak kanan atas (Intuiting), otak kanan bawah (Feeling) dan bagian otak tengah (Instinct). Nama-nama potensi otak (mesin kecerdasan) itu kemudian disingkat menjadi STFIn (halaman 35). Masing-masing potensi itulah yang akan membantu individu melakoni proses kehidupan termasuk proses belajar, berkarir dan berumah tangga.
            Pada dasarnya perilaku individu dengan mesin kecerdasan tertentu dipengaruhi oleh adanya rangsangan luar dan dalam. Jika motivasinya dari luar maka disebut ekstrovert, dan jika sebaliknya maka disebut introvert. Istilah tersebut sekaligus memberi penjelasan berbeda yang terlanjur melekat di masyarakat. Beni seakan menyingkap tabir kebingungan masyarakat akan persoalan introvert dan ekstrovert. Berawal dari faktor inilah, terbentuk sembilan mesin kecerdasan yaitu Si, Se, Ti, Te, Ii, Ie, Fi, Fe dan In (halaman 58). Untuk mengetahui ukuran masing-masing bagian otak tersebut digunakan finger print. Finger print hanya satu dari beberapa cara untuk mengetahui sejauh mana potensi diri orangtua dan anak (STFIn). Cara ini dianggap lebih akurat dan dapat langsung memberikan informasi kemampuan diri.
            Ada tiga tahapan dalam menjalankan proses belajar metode STIFIn, yaitu tahap persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. Ketiga tahapan tersebut bertujuan agar hasil yang dicapai maksimal. Setiap tahap membutuhkan kondisi pendukung sangat mutlak diperlukan. Faktor pendukung yang dimaksud dapat diperoleh secara internal maupun eksternal. Masing-masing tak bisa digeneralisasi. Misalnya individu bermesin kecerdasan “Sensing” yang dimiliki oleh Bill Gates, perlu melakukan senam sebagai proses pemanasan menjelang belajar. Individu ini butuh seperangkat alat tulis lengkap sebelum mulai bekerja. Berbeda dengan individu bermesin “Feeling”, seperti yang dimiliki Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, harus dirangsang dengan hadirnya teman belajar, guru atau narasumber sebagai tempat berdiskusi untuk menggugah mood belajarnya.
            Tak jauh berbeda dengan proses pelaksanaan metode STIFIn , masing-masing mesin kecerdasan punya ciri khas. Seorang ”Sensing” mudah meniru apa yang ditangkap inderanya sedangkan individu “Thinking” lebih suka memberi kritikan. Lain lagi dengan seorang “Feeling” yang suka diskusi. Ini semua menunjukkan fakta bahwa setiap anak punya pola belajar yang berbeda. Orangtua akan terbantu mengarahkan anak-anaknya jika mengetahui dengan tepat proses belajar yang sesuai dengan kepribadian anak.
            Meski demikian, orangtua patut berhati-hati dengan munculnya penyakit belajar. Tiap individu dapat dihinggapi beberapa penyakit pengganggu dalam proses belajar di kehidupannya. Misalnya seorang “Intuiting Ekstrovert (Ie)” yang memiliki daya khayal kuat, kerap enggan merealisasikan impiannya dan cenderung hanyut dengan mimpi. Penyakit tersebut menyebabkan individu ini kehabisan waktu belajar. Itu sebabnya tindakan evaluasi perlu dilakukan. Evaluasi menjadi titik ukur peninjauan perlakuan orangtua kepada anak. Di tahap ini orangtua bisa saja belum melakukan tindakan yang sempurna benar dalam mengasuh buah hati. Namun kegagalan proses belajar bukanlah aib melainkan peristiwa yang dapat membantu orangtua menemukan celah untuk dipelajari ulang.
            Ilmu psikologi praktis yang coba dijabarkan Beni Badaruzaman dalam buku setebal 147 halaman ini cukup menarik. Contoh profil dan tabel yang disuguhkan menjadi daya tarik pembaca yang juga ingin mengukur letak karakter yang dimilikinya. Namun mendalami isi buku ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Bab VI yang mengandung pembahasan “gaya belajar” adalah bagian yang tersulit sebab semua mesin kecerdasan dijabarkan menjadi satu. Andai penulis mengupas sembilan mesin kecerdasan menjadi sub bab sederhana maka tingkat kebingungan pembaca dapat berkurang. Meski demikian, pilihan huruf dan warna kertas yang nyaman bagi mata, cukup membantu pembaca. Bahkan penulis memberi catatan penting sebagai petunjuk bagi para orangtua di akhir bagian buku sebagai pengingat dan arahan langkah selanjutnya setelah melewat tiga tahapan STIFIn.

            Beni seakan tak ingin orangtua langsung lepas tangan dan berasumsi “sukses” setelah melewati akhir halaman. Ia ingin setiap orangtua menjadi pendamping agar setiap anak punya kesempatan untuk berhasil merintis masa depannya dengan kemampuannya sendiri. Orangtua adalah pengarah dan pendukung anak. Metode STIFIn diharapkan dapat menjadi salah satu kunci dari sekian banyak permasalahan proses belajar anak yang hadir di permukaan. Metode yang dapat membantu para orangtua menerapkan pola komunikasi terbaiknya kepada lawan bicara, baik terhadap anak, pasangannya hingga orang di luar lingkungannya.

Sabtu, 06 September 2014

Penolakan Itu Anugerah

Yap... 2014 penuh kejutan.
Target yang tak terpasang justru tercapai di tahun ini. Antara lain beberapa tulisan di media cetak.
Sebagai catatan pribadi untuk kilas balik, beberapa artikel saya berhasil dimuat justru saat pertama kali kirim. Padahal biasanya saya maju mundur ragu dulu ketika ingin kirim ke media cetak. 

  • Pertimbangan saat "klik send" adalah: ga usah mikir dimuat tapi berdoalah dengan penuh harap agar dimuat!
  • Pertimbangan sebelumnya: selalu membuat tulisan yang sesuai dengan syarat yg dicantumkan media dan standar penulisan yang benar..jadi memudahkan pihak redaktur untuk membaca tulisan kita.
  • Pertimbangan sebelumnya lagi: memilih tema menarik yang belum pernah dipublikasikan. rahasianya..sudah pasti harus sering mengikuti , mengawal tulisan media tersebut hingga sedetil-detilnya. akrab dengan selera mereka, sangatlah penting.

Benar saja..saat berhasil dimuat, saya belajar "mengapa bisa hasil pikiran saya dimuat?"
Dan saat artikel saya tidak dimuat dalam jangka lama..saya pun belajar. Tentang selera, kebodohan saya yang melanggar aturan media dan mungkin kejenuhan redaksi terhadap gaya bahasa saya yang kurang up to date, atau buku yang tidak terbaru (saat meresensi) atau terlalu grusa grusunya saya saat menulis dan main kirim saja tanpa berpikir panjang.
"Menulis Itu Menjaga Keseimbangan Hati dan Jiwa"
Seseorang seperti saya jika sedang labil, sebaiknya cukup menulis saja di draft blog atau diari. Jangan dipublikasikan dimana pun agar tak menjadi masalah dan menyesal di momen berikutnya.




Apa yang kamu dapatkan?
Saat artikel terpajang sempurna di koran..saya langsung membayangkan bahwa orang akan langsung tergerak untuk melakukan perubahan hidup atau menyadari kelebihannya. Saya tak pernah membayangkan seseorang akan mengenal saya sebab terkenal sebagai penulis hanya seumur bengkoang, tapi tulisan bermanfaat dan menggerakkan hati, akan selalu abadi.   
so...giatlah Ketty untuk naskah yang telah kau siapkan tahun Ini! Janji lo...
  

Sabtu, 30 Agustus 2014

Alice Munro dan Aku

Sumber: Intermeso/Kompas/Klasika/Selasa,17 Juni 2014/halaman 40

Nenek Alice Munro begitu menginspirasi. 

Usia saya lebih muda darinya saat memulai berlatih menulis. Andai tak pernah henti untuk berkarya..saya yakin, saya dapat menyerupai dia. Bukan pada raihan nobelnya tapi semangatnya, mimpi menjadi penulis profesional, berkarya, menggerakkan hati pembaca dan dikenang sepanjang masa. 
Lalu untuk apa? apakah saya kenyang dan tidur nyenyak dengan semua itu? apakah hutang dan tagihan bulanan bisa terpenuhi dengan itu semua?
TIdak..tagihan tetap menagih dan hutang belum juga lunas. Namun..ada jiwa yang lepas saat bisa menyelesaikan satu artikel yang punya greget; ada jutaan bahagia saat seseorang menyampaikan "hei, kamu yang nulis tentang ini ya?" dan ada sensasi 'wow' saat eksperimen untuk sebuah buku solo berhasil disetujui penerbit.
mungkin dan bisa jadi untuk ini:
sebuah kesimpulan dari Daniel Gottlieb dalam "Learning Your Heart" : "identitas bisa jadi tidak diperlukan manakala kita berada di suatu tempat terasing dan saling asing. Identitas yang tahu ya diri sendiri dan mungkin orang terdekatmu. Identitas adalah sebutan saat berkenalan, tapi bukan dengan Tuhan"

Saya Ketty..semoga suatu saat dan selamanya juga menginspirasi kalian, pembaca! 

nb: Lembaran kompas klasika yang kerap saya abaikan, kini mulai sering saya lirik kehadirannya karena artikel di atas dan lain-lain yang menggugah. 

Kamis, 24 Juli 2014

Beropak Ria di Hari Nan Fitri

Dalam hitungan hari menjelang lebaran, persiapan khas yang dilakoni sebagian ibu dan remaja putri adalah membuat aneka kue kering seperti nastar, kaastengel, kacang bawang, putri salju dll. Jenis kue-kue tersebut umum disajikan sebagai teman meminum teh, sirup atau kopi. Namun di keluarga saya yang bermukim di Purwokerto, ada satu camilan yang tak pernah terlewat di atas meja tamu, yaitu Opak Wonosobo.

"opak disajikan bersama kecap pedas..sangat pas!"

Opak yang satu ini telah lama ikut disertakan di antara deretan toples cantik. Ini berawal dari kiriman salah seorang saudara yang bermukim di Wonosobo. Ia mengenalkan satu snack khas dari kota mereka. Awalnya opak yang hadir berwujud lingkaran besar, lalu menyerupai perangko dan tahun ini berbentuk lonjong. 

"sebungkus opak ini bisa buat rame-rame" 
Saudara kami pun kerap menjadikan opak sebagai bingkisan oleh-oleh jika ada tamu dari luar kota mampir ke rumahnya di daerah Kalibeber, Kalianget. Opak singkong yang ringan, harga terjangkau (Rp 10.000/kg) dan bercitarasa gurih-memikat, menjadi bahan pertimbangan utama saat berkunjung ke kota sejuk ini. Jadi tak hanya manisan carica dan jamur saja lo yang patut dicoba dari Wonosobo. 

opak wonosobo yang masih mentah berbentuk lonjong
sayang ga punya dokumentasi opak perangko, unik banget lo bentuknya..

Berbicara soal kreatifitas, opak yang banyak digarap oleh kaum hawa di Wonosobo ini diciptakan berbeda daripada opak sampeu yang ada di Sukabumi atau daerah sekitar Jawa Barat. Opak Wonosobo terbuat dari singkong kupas yang telah dikukus, ditumbuk hingga halus dan diuleni bumbu rempah seperti bawang putih, garam, gula dan dicampuri irisan kucai. Opak rasa original tersebut, masih diminati hingga kini. Seiring waktu, menyesuaikan selera pasar, telah ada opak aneka rasa. Ada opak rasa nangka, anggur dan pandan hingga balado yang per bungkusnya Rp 13.000/kg. Jadi ga kalah sama penampilan makanan ringan yang menjamur di swalayan hehehe. 

proses pencetakan opak secara manual
sumber: http://nyong-wonosobo.blogspot.com/2013/07/
Lalu daerah mana sih yang sebenarnya menjadi sentra Opak Wonosobo???
Sekedar pengetahuan, Desa Kalibeber dan Kecamatan Sapuran adalah penghasil opak. Mereka menyebut opak jenis ini sebagai Opak Kucai. Alasannya ada kucai di dalam opak. Makanan ini dibuat dari bahan dasar singkong, yang direbus dan ditambah sedikit kucai serta garam secukupnya, lalu ditumbuk hingga halus, kemudian dipipihkan dan dijemur, setelah kering siap untuk digoreng dengan minyak panas hingga matang. 
Homeindustry opak menggiatkan masyarakat dan menghidupkan perekonomian desa. Kini Opak Wonosobo merambah hingga ke luar kota Wonosobo. Tampaknya geliat energi perekonomian Desa Kalibeber dan Kecamatan Sapuran begitu hebat. Mereka adalah modal terwujudnya ekonomi kreatif yang sedang digalakkan oleh Menteri Pariwisata dan Perekonomian Kreatif, Mari Elka Pangestu. 


 
opak bersanding dengan sup buah saat berbuka
Sebagai camilan, tentu opak dianggap umum di Wonosobo. Di rumah kami, opak adalah suguhan istimewa. Opak yang telah digoreng adalah camilan lintas generasi. Sangat disukai oleh anak-anak hingga orangtua. Mertua saya yang sudah sepuh (tua=78 tahun) masih senang dan gemar dengan opak ini. Rahasianya ternyata terletak pada kerenyahannya. Opak tidak keras saat dikunyah. Bumbunya pun pas dan tidak membuat eneg atau gatal di tenggorokan. Tentu aman dikonsumsi anak. Asal menggunakan minyak yang jernih saat menggorengnya.

opak gurih nan renyah jadi rebutan 
Proses penggorengan opak relatif cepat. Dengan api sedang dan minyak panas, opak akan melar dan matang. Opak tak perlu dijemur di bawah panas matahari dan opak yang mentah dapat disimpan selama berbulan-bulan di tempat yang kering dan tertutup rapat. 
Pernah nih, opak yang diberi oleh saudara menumpuk di lemari. Segera saya jemur dan pisahkan agar tidak saling melekat. Namun kondisi itu tak mengurangi rasa opak. Tetap enak, .. tak ada yang berubah.

saat proses penggorengan opak


opak yang telah matang, berwarna sedikit kecoklatan

Opak adalah tanda mata yang spesial. selain karena murah, harganya terjangkau, masyarakat selalu suka dengan opak. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Opak Wonosobo menjadi oleh-oleh saudara yang berkunjung ke Purwoketo. Saudara yang berdomisili di Wonosobo, kerap menjadikan opak sebagai cangkingan karena kami sekeluarga pun keranjingan dengan rasanya yang gurih dan renyah.. 
Jadi jika ingin bawa oleh-oleh Wonosobo, belilah opak dalam jumlah banyak! Opak bisa dibagi-bagi ke tetangga dan kerabat. .. pasti ga nolak deh hehehe

"tua muda teteup suka sama opak..Hidup Opak Wonosobo!"
Nah, di hari jadi Wonosobo yang ke 189 pada 24 Juli 2014 ini, tak ada salahnya jika mencicipi opak sambil bernostalgia dengan indahnya alam sejuk Wonosobo. Apalagi sambil menikmati bersama keluarga di hari yang fitri beberapa hari lagi..wuiiih, pasti seru dan menyenangkan!!
So,...buat pembaca yang belum sempat mencicipi opak, sempatkanlah membeli saat main ke Wonosobo! Opak Wonosobo tersedia di berbagai toko oleh-oleh, pasar hingga warung rumahan. Lebaran yang akan kita jelang pun bakal kriuuuk dengan hadirnya Opak Wonosobo.
Selamat Hari Jadi Wonosobo: Kota yang Indah dan Sejuk
 "Semoga Makin Maju dan Lestari dalam Mengembangkan Keanekaragaman Budaya"
Postingan artikel ini diikutsertakan dalam Giveaway #HariJadiWonosobo189 

Giveaway #HariJadiWonosobo189
Add caption

Jumat, 18 Juli 2014

Tips Menulis #1: Energi Menulis

Sepanjang enam bulan ini, energiku berfluktuasi. Kadang-kadang sprint tak terkendali, namun bisa dalam hitungan hari melambat dan ogah-ogahan. Jika sudah demikian, saya tak bisa menolak apa yang sedang terjadi pada otak dan tubuh. Biarkan metabolisme tubuh mengaturnya. Namun saat ingat janji dan rencana jangka panjang hingga impian yang membumbung tinggi, saya langsung grusa-grusu ingin cepat menyelesaikannya.

Selama enam bulan ini, saya lalai dengan target yang satu "ntu", menyelesaikan naskah alpokat yang seharusnya bisa selesai bulan ini. Entah mengapa ogah sekali buka file-nya. Saben duduk dan berkesempatan ngetik, yang langsung dilakukan ya googling, buka blog, email dan baca berita. 

Berita! Kini menjadi santapan utama mengingat saya sedang jatuh cinta untuk menulis di media. Mengirimkan tulisan di media haruslah berbekal pengetahuan dan berita terbaru. Oleh karena itu saya tak ingin dianggap ketinggalan. Bukan karena tergiur oleh honor saja, tapi entah saya seperti "kesambet", "kedanan" dan "ketumanan" ingin cepat-cepat bisa nulis, kirim dan lolos muat (berharap sambil ketar-ketir). Nyatanya, honor yang saya idamkan pun belum berjodoh dengan saya, hingga kini. Tak apalah..(sambil bingung "tanya siapa?")

Ngidam yang pernah melanda, terwujud sebagian. Dari situ saya belajar banyak bahwa menulis memang membutuhkan semangat, kemampuan membaca lingkungan dan kritis dalam menangkap ide. Jangan patah arang jika satu media menolakmu. Media lain akan bersedia menerima karena saat ini, menjadi "penulis dari kalangan pembaca" terbuka luas.
Asal mengikuti kaidah penulisan yang baik dan benar, mengetahui selera media dan up to date, insya Allah doa kita terkabul.

Menulis..dan menulislah.
Bukan karena siapa-siapa karena suatu saat tulisan Anda bermanfaat untuk seseorang. 




Selasa, 24 Juni 2014

Artikel Perempuan Suara Merdeka (1) Peranan Perempuan dalam Menangani Obesitas

dimuat  di Suara Merdeka 24 Juni 2014
Alhamdulillah..tulisan saya dimuat hari ini di suara merdeka. Saya mengirimkannya pada 11 Juni 2014 dan 24 Juni dimuat. Rubrik Halaman Perempuan menyediakan wadah bagi kaum hawa untuk mencurahkan ide cemerlang dan aktual tentang perempuan agar dapat bermanfaat bagi pembaca. Syarat dari Redaksi SM adalah tulisan sekitar 6000 karakter disertai foto diri pose santai dan dikirimkan ke perempuan_sm@yahoo.co.id. Jangan lupa menuliskan no telepon yang dapat dihubungi, alamat, juga no rekening bank.
Saya menyertakan biodata dan foto dalam satu rangkaian halaman naskah artikel. Tak lupa (tanpa diminta redaksi) saya lampirkan scan KTP. 
Tulisan asli saya berikut ini, silahkan bandingkan. Saya menulis sebanyak 6153 karakter atau 970 kata. Judul diedit redaksi dan juga beberapa bagian di dalamnya. 

Peranan Perempuan dalam Menangani Obesitas
Oleh : Ketty Husnia*

                Memasuki pertengahan tahun 2014, obesitas menjadi salah satu hal yang patut diwaspadai oleh masyarakat Indonesia. Berdasarkan ulasan harian Kompas edisi Senin (2/6/2014) yang berjudul “Obesitas Mendominasi”, tercatat angka menakjubkan penduduk obesitas berjumlah lebih dari 40 juta orang dewasa. Keadaan tersebut tentu mengkhawatirkan dan sangat mengancam kesehatan individunya. Sebab obesitas dapat memicu munculnya penyakit degeneratif seperti diabetes, serangan jantung, stroke, kanker dan lain-lain. Jika sudah demikian maka beban pemerintah akan semakin besar terutama dalam menangani masalah kesehatan penduduknya. Tentu tak dapat dibayangkan bagaimana masa depan bangsa ini jika mayoritas masyarakatnya berada dalam kondisi sakit? Lalu bagaimana bangsa ini dapat bangkit membangun sektor ekonomi jika sebagian anggarannya jatuh pada penanganan proses kesembuhan bukan pada tindakan preventif? Pemerintah terus terbebani, masyarakat asyik tak sadarkan diri.
            Berdasarkan hal itu maka sudah saatnya masyarakat bersikap mandiri tanpa menunggu bantuan pemerintah, berdikari mengatasi sekaligus mencegah ledakan penduduk obesitas yang bisa dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu lingkungan keluarga. Perlu disadari, obesitas dipicu banyak faktor yang berujung pada kebiasaan makan yang keliru. Harian Kompas edisi Selasa (3/6) yang bertajuk “Tangani Kegemukan secara Spesifik”, menuliskan beberapa faktor pencetus: faktor pemakaian hormon (alat kontrasepsi); faktor sosial (meningkatnya kesejahteraan masyarakat) dan faktor budaya (timbulnya asumsi gemuk adalah simbol kemakmuran hidup). Bahkan gaya hidup yang berubah pun dapat menjadi biang kerok kegemukan. Misalnya kebiasaan nongkrong dengan teman atau relasi saat larut malam sambil mengonsumsi makanan berat atau aneka kue. Jika aktivitas ini kerap dilakukan, bukan tak mungkin tubuh akan menimbun lemak dan menyebabkan kenaikan berat badan. Sekali lagi semuanya mengarah pada apa yang kita konsumsi.
            Pola makan keliru inilah yang harus disadari masyarakat sebab tak bisa dipungkiri apa yang kita makan memengaruhi kesehatan tubuh kita. Jika kita sering mengonsumsi makanan berlemak dan tinggi kalori namun kurang serat maka metabolisme tubuh menjadi kacau. Ibarat mesin, organ tubuh menjadi cepat aus sehingga tidak dapat menjalankan fungsinya dengan baik.  Oleh karena itu, ada baiknya masyarakat kembali pada perilaku hidup sehat yang berawal dari pilihan menu makanan.
            Aksi nyata penanganan obesitas diawali dari hulu, yaitu pada tingkat keluarga yang tersusun atas ayah, ibu dan sejumlah anak. Penyampaian edukasi gizi seimbang dan kesehatan dini lebih efektif di keluarga. Ibu dan kaum perempuan sebagai sosok pemegang kendali dapur berandil besar dalam perkembangan kesehatan keluarganya.            Beberapa solusi berikut bisa membantu mengurangi jumlah penduduk obesitas. Solusi pertama: perempuan harus dipersiapkan untuk memiliki pengetahuan yang luas tentang sumber kesehatan dan gizi yang tepat. Di titik ini, perlu ditanamkan prinsip “sehat itu mahal”. Dengan demikian seseorang tergerak untuk menjaga dirinya dari berbagai penyakit. Pengetahuan tersebut dapat diperoleh dari beragam sumber, melalui buku, media cetak, televisi, radio, internet hingga mengikuti ragam komunitas terbuka maupun offline (tanpa tatap muka langsung). Bahkan berbagai jurnal terbuka yang menerbitkan hasil penelitian kesehatan pun banyak beredar dan mudah dibaca/diunduh oleh siapapun.
            Solusi kedua: menciptakan perempuan cerdas. Wawasan yang luas akan berefek pada munculnya sikap kritis individu. Perempuan cerdas mampu bersikap bijak saat membaca iklan dan tayangan produk makanan/minuman. Sikap ini akan berimbas pada perilaku ibu atau remaja putri dalam mengambil keputusan bahan makanan yang dibutuhkan keluarganya. Alangkah baiknya jika produk yang dibeli adalah produk segar dan minim bahan pengawet apalagi pemanis buatan. Coba Anda bayangkan, apa yang terjadi jika perempuan cepat tergoda dengan rayuan manis pedagang di pasar, warung, hingga kalimat sakti yang tertulis dalam kemasan produk? Akankah semua bahan makanan dicoba? Bukankah untuk mencoba, diperlukan pertarungan rupiah yang tak sedikit?
            Solusi ketiga: membiasakan dan memberi contoh pentingnya minum air putih di lingkungan keluarga. Anak-anak sering malas mengonsumsi air putih dan memilih membeli aneka jajanan cair berlabel “segar” dengan rasa manis yang menggiurkan. Air putih adalah cairan utama yang harus dikonsumsi tubuh manusia. Jika para ibu kerap membiarkan kebiasaan tersebut maka tak ayal, jumlah pemanis buatan yang termuat dalam tubuh anak menumpuk dan menyebabkan munculnya penyakit lainnya, seperti gagal ginjal. Lalu bagaimana dengan obesitas? Penelitian yang dilakukan di San Diego State University, menyebutkan bahwa asupan pemanis buatan di dalam tubuh justru akan memicu otak memberi sinyal untuk terus mengonsumsi makanan lainnya melebihi ambang batas kenyang. Akibatnya lidah tak berhenti bergoyang dan usus dipaksa bekerja. Oleh karena itu mari giatkan anak dan diri sendiri untuk selalu mengonsumsi air putih dimana pun dan kapan pun.
            Solusi keempat: ketrampilan merangkai menu. Menu unik dan menarik dari bahan alami bisa menjadi alternatif camilan atau makanan utama. Kaum hawa dapat mengakses resep dari tayangan televisi atau internet. Pilihan bijaksana ini mencegah keluarga mengonsumsi makanan instan ataupun siap saji yang banyak tersedia di gerai-gerai makanan. Menu rumah pun tak melulu nasi. Olahan gandum, ubi, jagung, sukun, talas, dan bahan karbohidrat lainnya bisa menjadi pengganti nasi.
             Solusi kelima: menyediakan buah dan menu sayuran di meja makan. Kaum hawa yang terbiasa mengonsumsi buah dan sayur, dinilai lebih cantik, sehat dan aktif dibandingkan yang tidak. Bahkan terbukti, usus mereka menjadi lebih bersih daripada yang kerap mengonsumsi “makanan sampah” (dikutip dari Dr.Hiromi Shinya, pelopor Peneropongan Organ Dalam, dalam bukunya “Revolusi Makan”). Tentu kita dapat menebak, apa yang terjadi jika kondisi pencernaan buruk? Komposisi gizi makanan yang kurat serat menyebabkan seseorang terus merasa ingin makan di waktu yang kurang tepat. Terjadilah penumpukan lemak  dan peningkatan berat badan.  
            Solusi keenam: merubah paradigma “belum kenyang tanpa nasi” menjadi “kenyang dengan karbohidrat apapun”. Para ibu tak perlu risau ketika sang buah hati lebih memilih jenis karbohidrat lain daripada nasi sebab energi mereka telah tercukupi dari sumber lainnya. Ketentuan ini juga berlaku pada remaja perempuan yang doyan ngemil camilan berbahan baku karbohidrat, “tanpa nasi, it’s ok” ! Bukankah negeri kita kaya dengan aneka pangan selain beras?
            Keterlibatan kaum hawa dalam menjaga keseimbangan nutrisi keluarga, sangat penting sebab obesitas telah menjadi momok siapa pun. Penanggulangannya bisa dilakukan dengan sikap disiplin dalam mengonsumsi makanan sehat bergizi dan tetap melakukan aktivitas harian. Jika kesadaran masyarakat meningkat maka sudah pasti program hidup sehat dapat terlaksana dan jumlah penduduk obesitas pun menurun. Mari menyiapkan diri menjadi generasi sehat Indonesia


Jumat, 20 Juni 2014

belajar menulis melalui rubrik "fokus publik" Republika Jumat


rubrik "fokus publik" 20/6/2014 bertema kebutuhan pokok menjelang ramadhan
Salah satu cara mengasah kata menjadi kalimat menarik dan menginspirasi pembaca adalah melalui rubrik ini. Kita diharapkan mengasah pikiran dan mencari kata yang tepat agar menarik dan sesuai dengan tema.
Republika dapat diikuti melalui e-paper, jadi tak harus berlangganan versi cetaknya. 
Setiap jumat, Republika memberi ruang untuk beropini..Mari mencoba!
Saya mengirimkan opini berjudul "bijak Terhadap Kebutuhan Pokok" sebanyak 313 kata atau 1992 karakter tanpa spasi atau berkisar 1 halaman A4 dan disertai foto santai (plus biodata singkat seperti status, nama dan alamat)