Minggu, 23 Maret 2014

Wambut dan Lelembut

Saya baru mengenal wanita itu 10 tahun. Waktu yang singkat menyelami sikap dan tutur kasihnya. Lelaki di sebelahnya telah mengecap kehidupan bersama lebih dari 46 tahun. Nyaris memasuki tahun emas menurut orang yang suka beristilah. Perkenalan kami akibat sebuah pertalian, antara aku dan lelaki lembut. Ya, jika pun Tuhan tak berkehendak maka aku tak pernah mengenal kehidupan yang lembut pula. Dan jalan kelembutan itu ada melalui wanita ini.

Wanita tua begitu santun dalam bersikap dan jarang berkeluh kesah. tak pernah kudengar ada resahan dengan teriakan atau bahkan dentingan suara benda di rumah. Terlalu kasar mungkin baginya namun mungkin tidak bagi sebagian orang yang terbiasa melakukannya. Wanita ini tak pernah melampiaskan kejengkelannya pada manusaia dengan ucapan yang tak pantas. Ia mungkin mengeluarkan himpitan dadanya dengan bercengkerama pada Tuhannya. Sungguh aku terpana dengan kemampuannya mengendalikan diri. Bahkan aku tahu, hidup yang tua, tak pernah lepas dari masalah. Masih saja ada meski itu kini bukan urusan penting untuknya tapi wanita itu sangat bijaksana. Mampu mengelola emosinya. Wanita itu paham, sertifikat rumah terus saja bersekolah di tempat yang tak semestinya hingga ada tanggungan setiap bulan. Ia pun harus memaksakan diri mengeluarkan jatah pensiun demi anak dan cucunya yang menempel karena belum mandiri. 

Ah wanita itu..ia selalu membuatku iri.
Ia yang terdidik dari lingkungan yang disiplin dan terhormat, tidak semena-mena pada yang lebih rendah dari kehidupannya. Ia selalu ngemong dan wibawa. Sejuta pujian tak akan habis untuknya. Karena aku akan selalu terpana pada kemampuannya mendidik lelaki lembut yang kini mendampingiku. Lelaki yang selalu mengingatkan suara kerasku. Lelaki yang selalu mencubit ketika aku tak sopan pada orang lain. Bahkan lelaki yang bersedia menyuapi generasi penerus kami tanpa canggung di depan para  ibu.

Lalu apa yang terjadi antara wanita itu, lelaki lembut dan luka?
Adakah luka yang tergores di antaranya??

Setiap orang punya persepsi berbeda tentang luka. Mereka bebas berpendapat tentang luka dan penyebabnya. Lain lubuk lain pula perilaku manusia. 

Luka yang kusebutkan kelak adalah sesuatu yang telah menumpuk dan tertimbun hingga 'nyenyeh'. Sejalan dengan itu aku sebenarnya tak ingin berbicara tentang luka lagi. Aku ingin bicara tentang hal yang menyenangkan. Karena luka pada seorang wanita yang pernah mengelus dan mengasuhku penuh kasih ingin kuhapus. Semua tentu karena wanita lembut tadi. 

Ada hulu ada hilir. Wanita lembut itu menyisakan pelajaran tak tertulis pada lelaki lembut tentang kelembutan dan cara hidup. Ia menuntun lelaki lembut bersikap bijak dan tak kasar pada siapa pun termasuk pada orang yang menyakitinya. Aku adalah anak didik lelaki lembut.

Padanya aku belajar menyadari kesalahan. Sebuah kesalahan yang disebabkan oleh keadaan yang terlanjur salah. Kesalahan yang harus diwaspadai untuk diputus talinya agar tak terjadi kesalahan yang sama pada generasi berikutnya. Jangan sampai ada dendam dan rasa cemburu yang besar karena ini semua. 

Aku terlanjur terluka karena sikap wanita yang mengasihiku. Ia tiba-tiba berubah bagai orang asing di hadapanku. Ia bersikap sangat berlebihan, melindungiku dengan cara yang kurang tepat. Ia berusaha menjauhkan aku dari keluarganya sendiri. Ia tak mendukung hidupku. Ia menjadi tak perduli. Ia...ah ia ..sungguh bukan ia yang dulu. Cemoohan warga di sebelah rumah dan saudara mulai terdengar. Ia selalu berbeda pendapat dengan orang terdekatnya. Tak ada yang benar di matanya. Ia kehilangan kendali. Aku juga. Aku letih menghadapinya, aku sedih, kecewa dan bingung. Antara luka dan tanda tanya menguak membantai isi kepala. Aku selalu merenung mengapa tak pernah berakhir kisah ini? Mengapa harus terus menahun tanpa ada jalan keluar? 
Hingga di suatu waktu..aku harus sadar ia mungkin ada di suatu titik kehidupan yang berbeda. Ia mengalami goncangan. Semua orang bisa mengalaminya.. Mungkin ia tak pernah kuat menahan degup gempa kekalutannya sendiri. Mungkin ia pernah takut kehilangan anak-anaknya. Ia mengalami sesuatu yang tak dapat ia bagikan pada orang lain, juga pasangannya. Ia tak bisa memahami keadaannya sendiri. Ia membutuhkan bantuan..!

Selama bertahun-tahun wanita itu terkurung dengan egoismenya. Ia hidup dalam pikirannya yang benar. Ia adalah pemimpin dalam jiwanya. Ia tak dapat berkomunikasi lagi dengan kami. Dan aku terlanjur bersikap luka. Menunjukkan koreng-ku seakan-akan hanya aku, bukan dia yang kecewa..dan aku salah! Terlambat menyadarinya!

Aku terlanjur salah dalam bersikap, egois.

Lelaki lembut yang baik itu selalu mengingatkanku. 
"Bersikap baiklah padanya..tak ada yang lebih baik daripada bersikap cinta agar cinta itu tumbuh kembali.."
karena cinta dari pasangannya telah usang di mata wanita itu. 

Klise namun mengena. Aku selalu tunduk pada ucapan lelaki lembut. Ia mencontohkan kasih sayang dengan sesuatu yang bukan bualan. Kasih wanita lembut telah membuktikan hasil nyata bahwa lelaki lembut adalah sebagian anugerah dari perilaku kelembutan. 
Lalu ..luka yang menganga berusaha kukikis di awal 2014. 
Jika ini terlalu lama, tak apalah. Aku menyesal tak berusaha dari dulu, mengalah dan menunjukkan cintaku padanya. Aku terlalu sibuk dengan alasan duniawi. 
Kini, aku tak ingin mengukur berapa jam sudah berlalu hidupku tanpanya..atau berapa banyak tetes genangan kesedihan yang bergelanyut menyita semangatku karenanya.. 
Aku ingin membuang semua bentuk ukuran itu!
Aku ingin menyisakan keceriaan dan kebahagiaan senyum anak-anakku bersamanya. Aku ingin menyingkirkan duri di antara kami. Aku yang terlahir dari rahimnya berharap Tuhan Maha Mengerti kekeliruannya. Karena aku bersyukur ada wanita lembut (wambut) dan lelaki lembut (lelembut) penyemangat hidupku yang meredam luka di ujung jiwa. Dia dan dia penghimpun cermin yang pernah retak.





10 komentar:

  1. Sungguh luar biasa, pasangan yang serasi, semoga cerita ini bisa menjadi motivasi bagi semuanya, lebih² saya :)

    Quote : "Ia mungkin mengeluarkan himpitan dadanya dengan bercengkerama pada Tuhannya"

    Sukses GA nya, Mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. ok mas..lama mas sofyan tak keliatan. semoga saya dan pembaca pun jadi belajar dari pengalaman ini :)

      Hapus
  2. hmmmm tulisannya mengharubiru mbak, bikin mewek
    tadinya kukira bener-bener lelembut ternyata singkatan to hehehe
    tapi bagus banget sangat inspiratif

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebenarnya ini curcol mba..dl pernah pasang di blog satunya ttg ini tapi ada yg bilang saya terlalu berlebihan menilai mama saya..hiks..padahal apa yg saya alami, beban buat saya

      Hapus
  3. maksih mbak Ketty sudah turut menyemarakkan Tasyakuran Sang Patriot

    BalasHapus
    Balasan
    1. ok. saya jg makasih sudah terpilih mendapatkan novel patriot,,jd tak sabar nih bacanya

      Hapus
  4. "...Ia hidup dalam pikirannya yang benar. Ia adalah pemimpin dalam jiwanya. Ia tak dapat berkomunikasi lagi dengan kami."

    Mbak, tulisanmu keren sekali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. karena belajar dari njenengan mas :)

      Hapus

tinggalkan jejakmu kawan! dan selamat bereksperimen!