Rabu, 07 Mei 2014

resensi Buku Sang Patriot di Koran Jakarta

Hari ini..semangat baru menggebrak jiwa setelah resensi Sang Patriot dimuat di Koran Jakarta..terima kasih Allah Ya Rabbi..Koran jakarta menerima resensi dari pembaca. Kirimkan ke opinikoranjakarta@yahoo.co.id dengan subyek Perada-judul buku-nama pengirim.

cek tulisannya disini : http://www.koran-jakarta.com/?11571-mengenal%20pahlawan%20jember%20sroedji

Bandingkan dengan tulisan aslinya :


Mengenal Sroedji Pahlawan Jember

Judul   Buku   : Sang Patriot Sebuah Epos Kepahlawanan
Penulis             : Irma Devita
Penerbit           : Penerbit Inti Dinamika Publisher
Terbit               : Februari 2014
Tebal               : 266 Halaman
Harga              : Rp.52.000
ISBN               : 978-602-14969-0-9
Novel Sang Patriot


            Beberapa bulan terakhir, persaingan politik di tanah air sedang memanas. Masing-masing individu berusaha tampil percaya diri menunjukkan jati diri sebagai sosok yang patut dipilih rakyat. Semua mempunyai cita-cita yang sama, menuju Indonesia yang lebih baik. Untuk mencapai tujuan tersebut, tak ada salahnya bila kita belajar dari masa lalu. Melalui museum, sinema atau bahan sejarah lainnya seperti novel epos “Sang Patriot” ini. Semuanya adalah media belajar bagi masyarakat Indonesia untuk mempelajari sikap kepahlawanan dan keikhlasan para pejuang.
            Sroedji “Sang Patriot” adalah anak pedagang pasar yang selalu menjadi kebanggan keluarganya (halaman 16). Ayah dan ibunya sangat mendukung keinginannya bersekolah lebih tinggi daripada saudaranya. Meski pada masa itu tak mudah seseorang bersekolah, ayahnya rela menyisihkan tabungannya untuk memenuhi keinginan Sroedji. Selain lulusan sekolah teknik  (Ambachtsleergang), Sroedji aktif dalam kepanduan Hizbul Wathan di masa mudanya.  Pada masa pendudukan Jepang, Sroedji bergabung dengan teman-temannya di PETA (Pembela Tanah Air) dan meninggalkan jabatannya sebagai mantri malaria (halaman 48).  Itu semua demi cita-citanya menjadi tentara.  
             Rukmini yang dinikahi Sroedji, adalah seorang yang cerdas dan tegas. Ia rela mengubur mimpinya meneruskan sekolah di Sekolah Tinggi Hukum dan setia mendampingi Sroedji menjalani tugasnya sebagai pejuang. Rukmini seringkali mengalami masa genting di masa perang. Kala Sroedji bertugas, Rukmini harus meredam kepanikan dan melindungi keluarganya dari sentuhan tentara Jepang.
“Dengan wajah dingin dan bengis, mereka terus mencari dan berharap menemukan wanita muda. Tanpa ragu mereka melanjutkan langkah ke bagian belakang rumah, semakin dekat saja dengan tempat Rukmini sembunyi” (halaman 70).
Atau maling dari bangsanya sendiri.
“ Satu, dua, tiga, empat … ada sepuluh maling yang sedang menyatroni rumahnya” (halaman 111).
            Tak hanya itu, Rukmini juga harus pintar mengatur perekonomian keluarga yang sedang mengalami kesulitan bahan pangan. Kain kebaya dan simpanan perhiasan menjadi modal kehidupan bersama ketiga anaknya selama ditinggal Sroedji (halaman 63). 
            Dua bulan setelah proklamasi kemerdekaan RI, Sroedji memimpin Batalion Alap-Alap melakukan serangan balasan pada tentara Inggris di jembatan Kali Brantas. Ia dipercaya mengomandani sektor sayap tengah dan bertanggung jawab mencegah tentara Inggris menyerbu Surabaya. “Serangan Batalion Alap-Alap bergelombang tiada henti, datang dari segala arah, menyambar, mematuk dan menghujam mangsa laksana elang yang kokoh dan garang” (halaman 85). Saat itu Sroedji dan pasukannya berhasil melaksanakan tugas.
            Namun sayang, pekik kemerdekaan yang dikumandangkan Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945 belum sepenuhnya terjadi di seluruh kota. Belanda belum bersedia mengakui kemerdekaan RI. Perundingan demi perundingan pun terjadi guna menengahi peperangan. Salah satunya adalah perjanjian Renville. Akibatnya wilayah Indonesia mengecil, beberapa kota harus diserahkan kepada Belanda. Kota Jember adalah salah satunya. Sroedji harus membawa pasukannya meninggalkan Besuki, mengosongkan kekuatan militernya menuju Tulungagung, Kediri, Kepanjen dan Blitar (halaman 133). Celakanya, banyak pasukan yang mbalelo, tidak mau diatur. Mereka tidak terima jika harus menyerahkan wilayahnya ke Belanda. Akibatnya peperangan kecil kerap terjadi.
            Lelah dengan semangat pejuang Indonesia yang kerap membuat kocar-kacir markas  merebut senjata dan mesiu, Belanda pun mengubah strategi. Mereka menyebarkan sayembara berhadiah bagi penangkapan Sroedji dan keluarganya. Rukmini menangkap gelagat buruk dari kabar tersebut. Keselamatan mereka sedang terancam. Jika keluarga Sroedji tertangkap, mereka dijadikan “alat pemancing” Sroedji. Sroedji pun mendengar kasak-kusuk itu dari mata-matanya. Ia pun mengirim utusan mengungsikan Rukmini dan keluarga besarnya ke Kediri. Rukmini yang sedang hamil tua harus berjalan melewati bukit dan gunung demi menghindari pos penjagaan tentara Belanda. Ia harus bertahan menjalani penderitaan selama lebih dari satu bulan (halaman 115).
            Di sela-sela tugas berat memimpin pasukannya, Sroedji juga dipercaya sebagai komandan Satuan Gabungan Angkatan Perang pada masa pemberontakan PKI. Ia ditugaskan menumpas PKI di Blitar, memimpin Batalyon Syafiuddin, Batalyon Magenda, Batalyon Sudarman dan Batalyon Darsan Iru (halaman 147). Sroedji dan pasukan berhasil mengatasi pemberontakan PKI yang dipimpin Muso (halaman 147 ).
            Serangan kilat yang dilancarkan Belanda menggempur Yogyakarta, berakibat besar terhadap suasana Indonesia saat itu. Agresi Militer II terjadi. Sroedji dan pasukannya bersiap menghadapi serangan Belanda. Berencana merebut kota Jember kembali. Rapat tertutup para pimpinan pun dilaksanakan. Mereka berdiskusi tentang momentum wingate action kepada Belanda. Keputusannya, Sroedji memimpin pasukan beserta sanak keluarga mereka masuk ke Jember melalui jalan memutar. Sayang, mata-mata Belanda menyusup di antara mereka (halaman 162).
            Perjalanan Sroedji dan pasukannya tidak mulus. Kelaparan akibat musim paceklik menambah penderitaan para pejuang (halaman 191). Korban jiwa yang terkena serangan bom udara cukup banyak (halaman 170). Bencana alam pun menghadang pasukan ini, banjir lahar dingin Sungai Bondoyudo (halaman 202). Serangan Belanda yang mendadak muncul di tempat peristirahatan Sroedji dan pasukannya semakin memperlemah kesigapan. Bahkan kebutuhan amunisi pasukan mulai menipis. Namun Sroedji tetap berusaha berpikir positif. Ia belum menduga, Somad yang ada dalam anggota pasukannya adalah musuh dalam selimut.
             Abdul Syukur, ajudan Sroedji menjadi saksi sejarah sepak terjang pimpinannya dalam bertempur. Ia selamat dalam peristiwa pengepungan Belanda yang terjadi malam itu. Sroedji dan beberapa perwiranya tewas tertembak (halaman 234).
“Lapor, Pak…Pak Sroedji dan Pak Bandi gugur, Pak! Belanda menyerbu Karang Kedawung. Semua gugur, hanya saya yang selamat” (halaman 241).
Kota Jember kehilangan satu patriot yang dibanggakan rakyatnya. Seorang pemimpin yang penuh tauladan.


              Entah direncana atau tidak, Irma Devita menelurkan kisah kepahlawanan sang kakek tepat mendekati masa pemilihan calon presiden RI 2014. Figur lakon Sroedji yang begitu kuat dalam ingatannya sangat tepat di masa krisis kepemimpinan bangsa. Sebuah kisah patriot pelaku sejarah Indonesia dari kota Jember yang bisa dijadikan cerminan calon para pemimpin negara kita dan remaja Indonesia. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

tinggalkan jejakmu kawan! dan selamat bereksperimen!